Petarung Ikuti Kegiatan Workshop Urban Citizenship Academy (Uca) yang Diadakan Solo Kotakita

Release Kegiatan Urban Citizenship Academy(UCA) Kotakita Solo Juni – September 2015

UCA PART 1

 

Sumber foto: Dokumentasi pribadi

 

Kegiatan UCA merupakan kegiatan yang dilakukan oleh yayasan Kotakita Solo dengan tujuan memberikan metode-metodeyang biasa Kotakita gunakan untuk menyusun sebuah proposal yang diajukan. Sesi yang diajarkan dalam UCA 1 ini adalah tentang metode pemetaan dan teknik pengumpulan data.

 

Pada hari pertama yang dimulai pukul 9 pagi terdapat beberapa sesi yang dimulai dengan sesi perkenalan dan pengenalan nilai-nilai yang diharapkan muncul dalam pelatihan ini. Setelah itu sesi berikutnya adalah sesi tentang teori keruangan dan akses. Di sesi ini kami diberi materi tentang apa itu ruang dan bagaimana akses yang baik dalam sebuah ruang.

 

Sesi berikutnya barulah memasuki sesi teknik dan metodologi pemetaan yang sering dilakukan oleh Kotakita mengingat yayasan ini pernah diberikan amanah oleh Pak Jokowi untuk memetakan seluruh Kota Solo lengkap dengan batasan RT, RW ,dan kelurahan yang ada di Kota Solo. Mereka mengajak beberapa komunitas dan mahasiswa arsitektur dan planologi UNS untuk menyelesaikan amanah yang diberikan Pak Jokowi ini. Saat sesi ini kami diajarkan cara bagaiman metodologi pemetaan yang baik yang bisa mendukung advokasi atau proposal proyek yang kita buat.

 

Tak hanya teori, seusai istirahat makan siang kami pun dibagi kedalam 5 kelompok untuk mempraktekan teknik dan metodologi pemetaan yang sebelumnya diberikan. Siang itu kami menaiki angkot menuju Kelurahan Sewu dan setiap kelompok diminta memetakan kelurahan sewu dengan mendelinasi batas RT, batas RW dan fasilitas umum yang ada di kelurahan Sewu. Tak hanya itu, kami juga dituntut untuk mengumpulkan data-data terkait setiap RT yang ada disana seperti jumlah penduduk, jumlah KK , jumlah Rumah, Jumlah anak usia sekolah, jumlah kk yang memakai PDAM dan lain sebagainya. Setelah pemetaan selesai kami pun kembali ke kantor Kotakita dan mengakhiri agenda di tanggal 06 Juni ini.

 

Dihari kedua dimulai dari jam yang sama, kami pun memulai lagi kegiatan dengan agenda pertama adalah mengevaluasi hasil survei pemetaan sehari sebelumnya. Banyak temuan-temuan yang kami temui di lapangan seperti ada IPAL komunal, ada beberapa anak berkebutuhan khusus, adanya pencemaran lingkungan, adanya program pembuatan taman RT dan lain sebagainya. Selain itu ada juga masalah-masalah yang kami temui di lapangan seperi kurang sinkronnya data bu RT dan pak RT , pak RT yang ada dan tiada, lingkungan yang sangat kumuh dan lain sebagainya. Tim kotakita juga memberikan beberapa solusi terkait masalah yang diutarakan peserta-peserta seperti meninggalkan kuisioner beserta panduan pengisian jika Pak RT tidak ada, menghubungi pengurus RT yang lain ataupun menghubungi ibu-ibu PKK dan bahkan menghubungi ketua RT sebelumnya.

 

Sesi berikutnya adalah sesi materi problem tree analysis yang digunakan dan bertujuan untuk memahami masalah yang ada dan juga membantu sebagai arahan untuk pengumpulan data yang dibutuhkan di lapangan terkait masalah yang ingin diselesaikan. Karena masalah dianalogikan sebagai batang pohon yang dibawahnya terdapat akar pohon yang dianalogikan sebagai sebab-sebab permasalahan dan diatas batang terdapat ranting-ranting pohon dan daun yang merupakan akibat-akibat yang ditimbulkan dari masalah yang ada.

 

Setelah sesi ini berakhir maka sesi berikutnya adalah sesi diskusi yang dibagi kedalam kelompok sesuai regional. PETARUNG kebetulan masuk dalam kelompok lingkungan yang membahas rendahnya kualitas lingkungan di Kelurahan Brontokusuman di Yogyakarta. Kami dilatih untuk membuat problem tree analysis berdasarkan masalah yang kami usung. Setelah berdiskusi, ternyata banyak sebab-sebab seperti budaya membuang sampah sembarangan, penyelewengan bantuan pemerintah, kurangnya sosialisasi dan perhatian pemerintah dan lain sebagainya. Dan ternyata akibat-akibat yang ditimbulkan juga menimbulkan akibat-akibat lainnya seperti diskriminasi yang menimbulkan kriminalitas dan konflik sosial.

 

Sesi berikutnya adalah sesi teknik pengumpulan data dan strategi pengumpulan data disertai timeline pengumpulan data yang dibutuhkan untuk dibawa saat UCA sesi 2 yang membahas analisis data serta pemilihan koordinator tim. Kebetulan dari PETARUNG diamanahi sebagai koordinator di salah satu team yang ada di Jogja. Ini merupakan sesi terakhir dari rangkaian acara UCA yang telah berlangsung selama 2 hari, kami pun pamitan dan saling berfoto satu sama lain dan kembali ke daerah masing-masing untuk kembali lagi sekitar bulan juli atau agustus pasca lebaran untuk kembali mengikuti UCA sesi 2.

 

UCA PART 2

 

Sumber gambar: Dokumnetasi Pribadi

 

Sabtu-Minggu 29-30 Agustus 2015 @Kantor Yayasan Kotakita,Surakarta Jawa Tengah

Petarung kembali mengikuti kegiatan Urban Citizenship Academy Part 2. Pada sesi sebelumnya kegiatan ini berfokus kepada pelatihan pemetaan dasar dan identifikasi masalah.

 

Pada sesi kali ini workshop lebih berfokus pada analisis masalah dan perumusan ide yang berujung pada aksi.Peserta diharuskan mempresentasikan identifikasi masalah beserta data-data pendukung seperti foto,tabel,diagram,kuisioner,wawancara,dan lain sebagainya yang sebelumnya dilakukan di kawasan amatan yang telah di tentukan pada sesi sebelumnya.Kami berada pada Tim yang memilih kawasan RW 18 & 19 Brontokusuman yang terletak beberapa kilometer dari timur Jalan Malioboro.

 

Setelah proses presentasi selesai, peserta dijelaskan mengenai keterhubungan antar data dengan studi kasus kecamatan Sondakan Surakarta dilanjutkan dengan turun ke lapangan dengan mengunjungi Kelurahan Sondakan yang merupakan sentra pembuatan kerajinan batik. Namun karena adanya industri batik puluhan tahun yang lalu hingga saat ini masih tersisa beberapa ternyata menimbulkan masalah yaitu kandungan air tanah yang tercemar oleh  limbah batik.Selain itu ditunjukan juga beberapa proyek-proyek yang ada di kelurahan yang memakai sistem top down dan bottom up seperti pembuatan MCK dan IPAL komunal.

 

Pada hari ke 2 kegiatan yang dilakukan adalah brainstorming perumusan ide aksi yang dituangkan dalam presentasi dengan cara klipping.Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas regional solo-jogja seperti RHI(Rumah Hebat Indonesia), Jurusan PMI(Pengembangan Masyarakat Islam) UIN,Forum Anak,Komunitas Pesepeda,dan Lain sebagainya.

 

Tahap terakhir di fase ketiga akan dilakukan tanggal 26-27 September di lokasi yang sama dan akan berfokus pada rencana aksi dan kampanye serta advokasi ide program yang telah disusun di tahap sebelumnya.

 

Sumber gambar: Dokumnetasi pribadi

 

 

UCA PART 3

Sumber gambar: Dokumnetasi pribadi

 

A. Communication Skill

Tak terasa UCA sudah menginjak ke bagian terakhir dari ketiga sesi yang ada. Pada sesi ini dimulai dengan cara bagaimana berbicara didepan publik untuk meyakinkan masyarakat bahwa proyek yang kita jalani bermanfaat untuk masyarakat. Metodenya pun cukup unik karena kita dilatih untuk berbicara sambil memegang draft yang kita buat sebelumnya. Diyakini metode ini cukup baik agar topik yang kita jalani tidak ngalor ngidul dan tetap stay on the way.

 

Di akhir sesi ini kita diberi kesempatan untuk berbicara mengenai proyek kita di depan kelas dan tantangan berikutnya cukup menantang karena kita diberi waktu yang cukup singkat bilamana kita bertemu dengan tokoh-tokoh penting namun hanya diberi waktu yang sangat sedikit (1 menit – 3 detik saja) untuk mempromosian proyek kita. Selain itu kita diharuskan mengkritik teman kita yang telah berbicara di depan kelas dengan 3 kunci kritik yaitu be kind, be specific, be helpful.

 

B. Situational and Stakeholders Analysis

Di sesi selanjutnya diadakan situational analysis dan stakeholder analysis untuk memperlancar proyek yang kita kerjakan. Untuk apakah sebenarnya kedua analisis ini?mari kita bahas satu persatu:

1. Situational Analysis

Situational Analysis adalah analisa berdasarkan situasi yang aktual saat proyek kita berjalan menggunakan analisis SWOT dimana :

 

S(Strenght)

Merupakan kekuatan yang dimiliki proyek yang kita jalani dan manfaat-manfaat dari proyek yang kita jalani yang merupakan kelebihan internal dari proyek.

 

W(Weakness)

Merupakan kelemahan proyek yang kita jalani serta kekurangan-kekurangan yang ada pada proyek yang kita jalani.

 

O(Opportunity)

Merupakan kelebihan yang terdapat dari luar proyek kita seperti kebijakan pemerintah yang sejalan dengan proyek, adanya dukungan dari berbagai komunitas dan sebagainya yang datang dari luar proyek kita

T(Threat)

Merupakan ancaman yang berasal dari luar proyek yang bisa menghambat jalannya proyek yang kita jalani seperti ancaman adanya banjir di musim penghujan dan lain sebagainya.

Selain analisis SWOT kita juga dituntut untuk mengetahui dinamika yang ada di masyarakat seperti sejarah , politik, dan lain sebagainya

 

2. Stakeholders Analysis

Analisis ini adalah idetifikasi kemungkinan stakeholder yang akan mempengaruhi ataupun tidak mempengaruhi namun masih memiliki dampak kepada proyek kita supaya kita dapat lebih memamahi mana stakeholder yang harus kita dekati mauapun hanya sekedar untuk meminta izin atau dengan kata lain adalah pemetaan stakeholders yang memiliki pengaruh ataupun interest pada proyek kita.

 

 

C.   Visualisasi Data dan Informasi

Sesi selanjutnya adalah bagian visualisasi data dan informasi untuk mempermudah audiens memahami data dan informasi yang kita miliki dengan media poster, infografis, diagram, visualisasi naratif dan lain sebagainya. Banyak aplikasi yang kita bisa gunakan untuk ini seperti Ms. Excel, Adobe Ilustrator, Photoshop maupun aplikasi desain online.Diajari juga bagaimana cara membuat layout yang baik dan menarik, pemilihan warna dan lain sebagainya demi mengkomunikasikan informasi dengan jelas.

 

 

D.  Manajemen Proyek

Pada sesi ini kita diajari bagaimana sebenarnya manajemen proyek yang baik dengan beberapa poin penting seperti

a.Kegiatan

b.Jangka Waktu

c.Sumberdaya

d.Tujuan/sasaran tertentu

dan juga diajari beberapa planning project seperti menentukan langkah-langkah kegiatan,timeline, alokasi sumberdaya dan lain sebagainya dengan di point penting pada sesi ini yaitu Controlling, Monitoring, Evaluation

 

 

E.   Publikasi proyek

Di sesi terakhir ini terdapat beberapa cara untuk mempublikasikan proyek yan kita miliki dengan berbagai media yang ada karena 5 perubahan besar yang ada di zaman ini yaitu :

1.               Terlalu banyak media

2.               Dunia multilayar

3.               Semua bisa jadi media company

4.               Semua cerita punya peluang untuk jadi aset sosial

5.               Cerita tidak pernah mati

 

 

Tak terasa UCA batch 1 ini telah berakhir dengan menyisakan kenangan dan pertemanan yang tiada akhir dan jejaring bersama komunitas-komunitas yang bersama-sama berjuang untuk kebaikan masyarakat disekitarnya.

Penutupan UCA diadakan tanggal 06 Desember 2015 (Jogja menyesuaikan) yang akan dihadiri stakeholder-stakeholder yang ada di Solo.

Presentasi proyek UCA Batch 1 dan 2 dilaksanakan Saat Urban Social Forum 18 Desember 2015 di Surabaya

Sumber gambar: Dokumnetasi pribadi

 

 

 

Harun Din Haq

Penulis adalah anggota Pemuda Tata Ruang-Divisi Aksi

 

 

 

Petarung Hadiri The 3rd Urban Social Forum: Another City is Possible!

Sabtu lalu (19/12), Komunitas Pemuda Tata Ruang diundang untuk hadir di Surabaya untuk menghadiri acara The 3rd Urban Social Forum (USF) yang mengambil tajuk “Another City is Possible!”. USF sendiri merupakan acara tahunan yang diinisiasi oleh Yayasan Kota Kita, sebuah komunitas sosial yang berbasis di Solo. Gelaran USF dimaksudkan menjadi forum dialog terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari jawaban atas berbagai permasalahan yang tengah dihadapi kota saat ini.

Petarung Sampaikan 3 Gagasan Terciptanya Kerjasama untuk Mewujdkan Tertib Tata Ruang Joglosemar

Peserta Focus Group Discussion Peningkatan Kerjasama untuk Mewujudkan Tertib Tata Ruang yang digelar Kementerian Agraria dan Tata Ruang pada 6 November 2015 lalu

Tanggal 6 November 2015 lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang diundang oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah (Dirjen PPRPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang dalam Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Peningkatan Kerjasama untuk Mewujudkan Tertib Tata Ruang”. FGD yang dilaksanakan di Hotel Inna Garuda Malioboro, Yogyakarta ini dilaksanakan dengan tujuan terciptanya gagasan-gagasan serta usulan agar terciptanya tertib tata ruang di Kawasan Joglosemar (Yogyakarta, Solo, dan Semarang). Sesuai dengan ruang lingkup kawasan topik yang dibahas, peserta FGD pun berasal dari ruang lingkup yang sama pula. Peserta yang diundang berasal dari pemerintah (Bappeda DIY & Jateng, BPN DIY & Jateng), pihak penegak hukum (Polda DIY & Jateng dan Kejaksaan DIY & Jateng), serta perwakilan dari masyarakat yang dihadiri oleh Petarung dan Real Estate Indonesia.

Acara dimulai pukul 09.30 dengan pembukaan dari Bapak Gunung selaku perwakilan dari Dirjen PPRPT Kemen ATR. Beliau menyampaikan 4 poin utama dalam presentasi pembukaan, yaitu pengendalian dan pemanfaatan ruang dalam penyelenggaraan tata ruang, permasalahan, kebutuhan kerjasama, dan kajian kelembagaan dalam mewujudkan tertib tata ruang.

Dalam presentasinya, Bapak Gunung membuat kesimpulan umum terkait permasalahan pengendalian pemanfaatan ruang yang disebabkan oleh 6 faktor yaitu faktor kurangnya referensi peraturan, kurangnya perangkat hukum, banyaknya kepentingan di luar tata ruang, kurang visionernya stakeholder, keterbatasan SDM, dan sistem yang belum transparan. Bapak Gunung dalam presentasinya juga memberikan pandangan pentingnya kerjasama kelembagaan  antar daerah dalam hal tindak preventif dan represif agar lebih efektif dan efisien. Namun dalam hal pengendalian ruang, tindakan represif dilakukan ketika diperlukan, jadi tindakan preventif lebih diutamakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

Pembicara kedua adalah Bapak Suryanto, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota UGM. Beliau menyampaikan materi mengenai bagaimana meningkatkan kerjasama antar daerah di Joglosemar, khususnya pengendaliaan pemanfaatan ruang. Dalam presentasinya, Bapak Suryanto mensyaratkan bahwa untuk mewujudkan tertib pemanfaatan ruang antar wilayah, harus ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu (1) adanya instrumen penataan ruang yang dijadikan acuan dan (2) adanya organisasi yang mampu untuk mengatur, membina dan mengawasi pelaksanaan penataan guna ruang.

Pemaparan dari Bapak Suryanto

Setelah istirahat Solat Jumat dan makan siang di resto hotel, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Bapak Sutrisno. Sebagai catatan, Bapak Sutrisno pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekda Sleman. Saat diundang di FGD kemarin, bapak Sutrisno hadir sebagai akademisi dan inisiator program kerjasama antar wilayah Kartamantul dan Java Promo. Dalam presentasinya yang disusun berdasarkan pengalaman pribadinya, Pak Sutrisno menegaskan bahwa untuk mencapai taraf kerjasama yang dilakukan perlu kesepahaman antar belah pihak yang mencakup lima aspek, yaitu kerjasama dilakukan dengan asas kebermanfaatan, demi kepentingan umum, mengedepankan good governance, mau negosiasi apabila terjadi kekurangan, dan realistis terhadap kondisi saat ini.

Pemaparan dari Bapak Sutrisno

Petarung yang diundang sebagai perwakilan masyarakat/swasta dalam FGD ini menyampaikan tiga poin gagasan demi terciptanya tertib tata ruang di kawasan Joglosemar, khususnya dari perspektif masyarakat. Petarung, beberapa hari sebelum FGD dilaksanakan, menyebarkan kuesioner online yang mencakup pertanyaan mengenai tanggapan masyarakat tentang penataan ruang joglosemar dan saran mengenai koordinasi antar lembaga di Joglosemar. Hasil dari kuesioner tersebut dijadikan bahan bagi Petarung untuk memberikan gagasan terkait tema FGD. Adapun gagasan-gagasan yang dibawa oleh Petarung adalah:

1.   Melakukan Sosialisasi dengan Media Alternatif

Petarung memberikan gagasan terkait hal ini karena, Petarung melihat banyak sekali peluang yang dapat digali dari media-media alternatif selain TV, radio, dan surat kabar. Media-media alternatif dapat berupa media sosial yang saat ini sedang menjadi tren di masyarakat dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melakukan sosialisasi. Terlebih saat ini masyarakat banyak yang masih awam terkait penataan ruang dan dengan penggunaan media sosial penataan ruang dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

2.   Membuat Website Penataan Ruang Joglosemar

Petarung melihat apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam mengaplikasikan peta tata ruang wilayah kota ke dalam website merupakan langkah yang dapat diterapkan dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait tata ruang Joglosemar. Website Joglosemar dapat diisi dengan informasi-informasi seperti peta digital, peta rencana tata ruang, dan lain-lain.

3.   Skema Pengaduan Penyimpangan Tata Ruang oleh Masyarakat

Masih minimnya informasi cara pelaporan apabila terjadi penyimpangan tata ruang membuat masyarakat seakan-akan membiarkan apabila terjadi penyimpangan tata ruang. Oleh karena itu Petarung merumuskan skema pengaduan apabila terjadi penyimpangan tata ruang.

Hasil FGD dengan SKPD dan lembaga penegak hukum di Joglosemar ini nantinya akan dijadikan rekomendasi peningkatan kerjasama antar daerah karena saat ini belum ada instrumen yang secara khusus dijadikan pedoman kerjasama antar daerah. Apabila instrumen ini dapat diaplikasikan dalam kerjasama antar daerah, diharapkan penataan ruang di kawasan kerjasama dapat menjadi optimal.

 

Boedoet, Friska Okta M, Yudha

Tim FGD Joglosemar Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

 

 

Bermimpi Untuk Kemudian Berpartisipasi: Kampung Impian Anak, RW 12 Prawirodirjan Yogyakarta

Bertepatan dengan perayaan Hari Agraria Nasional dan Tata Ruang, Minggu 08 November 2015, Petarung menghadirkan kegiatan Kampung Impian Anak yang berlokasi di Kelurahan Prawirodirjan RW 12, Gondomanan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh anak-anak SMP dan SMA dari FKRA (Forum Kampung Ramah Anak) dan Ibu Tami selaku ketua RWyang sekaligus menjadi fasilitor acara.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net