Sabtu (21/10) lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama dengan Komunitas Cagar Budaya mengadakan kegiatan Kolaboratrip 2. Kolaboratrip edisi ini bertajuk “Kawasan Bintaran dalam Arus Sejarah Kolonial dan Modern”. Rute yang diambil diawali dari Gereja Santo Yusuf Bintaran, lalu menyusuri kawasan sepanjang Jalan Sultan Agung, dan diakhiri di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman.

 

Acara dimulai pada pukul 9 pagi di halaman parkir Gereja Santo Yusuf yang diawali dengan pembukaan dan perkenalan peserta Kolaboratrip. Terdapat kurang lebih 25 peserta dalam Kolaboratrip ini, termasuk panitia yang berasal dari Komunitas Pemuda Tata Ruang dan Komunitas Cagar Budaya. Setelah melakukan pembukaan, peserta diajak untuk berpindah ke halaman depan Gereja Santo Yusuf.

Sedikit informasi, Gereja Santo Yusuf dibangun pada tahun 1933, hasil gubahan arsitek J.H. Van Oyen. Gereja ini pada awalnya didirikan berawal dari keresahan seorang keturunan Belanda-Indonesia, H. van Driessche. SJ karena pada saat itu Gereja Kidul Loji yang menjadi lokasi beribadah tidak mampu lagi menampung jumlah umat yang beribadah. Terlebih lagi, pada saat itu bangunan utama Gereja Kidul Loji hanya diperuntukkan untuk bangsa Eropa, masyarakat Jawa hanya diperbolehkan mengikuti kegiatan ibadah di gudang gereja. Alhasil didirikanlah Gereja Santo Yusuf untuk menampung masyarakat Jawa yang ingin beribadah.

 

Dalam masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Gereja Santo Yusuf juga memiliki peran dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa Kota Yogyakarta berstatus sebagai ibukota Republik Indonesia, Gereja Santo Yusuf pernah digunakan oleh Ir Soekarno untuk berdiskusi dengan Romo Soegijapranata terkait kemerdekaan Indonesia.

Ada beberapa fakta unik di Gereja Santo Yusuf ini. Seperti misalnya benda-benda yang berada di dalam gereja yang mayoritas masih asli ketika pertama kali dibangun, hingga bentuk bangunan yang ternyata mengikuti bentuk 14 lukisan yang ada di dalam gedung. Usut punya usut, lukisan yang ada sudah ada lebih dulu daripada Gereja Santo Yusuf itu sendiri. Keempat belas lukisan gubahan seniman Theo Malkenboet ini dibuat pada tahun 1901 yang pada awalnya dibuat untuk Gereja Kathedral di Jakarta. Karena tidak digunakan, maka lukisan-lukisan ini dihibahkan ke Gereja Santo Yusuf Bintaran. Menarik bukan?

 

Setelah kurang lebih satu jam menyusuri sejarah di balik Gereja Santo Yusuf, kegiatan dilanjutkan menuju destinasi kedua, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman di timur gereja. Di sepanjang perjalanan, peserta disuguhi beragam bangunan bergaya indis seperti Bioskop Mutiara, bekas Museum Biologi UGM yang pada akhir abad 19 digunakan untuk mengawasi kegiatan Pakualaman, dan masih banyak bangunan bergaya indis lainnya yang tidak diketahui sejarahnya.

 Di tengah perjalanan menuju Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, perwakilan dari Pemuda Tata Ruang menyampaikan materi terkait bangunan Cagar Budaya. Secara umum, ketentuan bangunan cagar budaya sendiri sudah diatur dalam UU No 11 tahun 2010 tentang Bangunan Cagar Budaya. Namun pada pelaksanaannya masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seperti mengubah fasad bangunan, merubah bentuk bangunan secara signifikan, hingga menghancurkan bangunan. Padahal dalam ketentuan yang ada, perubahan hanya boleh dilakukan sesedikit mungkin.

 

Perjalanan berlanjut ke Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman. Di museum ini, peserta ditemani kurator museum yakni Bapak Sukarjo. Bapak Sukarjo dengan senang hati mengantarkan peserta Kolaboratrip melihat-lihat museum yang dulunya merupakan rumah dari Jenderal Soedirman. Barang-barang yang dipamerkan berupa barang-barang yang digunakan oleh Jenderal Soedirman ketika melakukan perang gerilya maupun saat-saat terakhir beliau semasa hidup.

 

Selain mengajak melihat barang-barang peninggalan Jenderal Soedirman, Bapak Sukarjo juga bercerita banyak soal Jenderal Soedirman. Di akhir perjalanan, Bapak Sukarjo menyempatkan memberikan pesan-pesan kepada peserta untuk mencontoh hal-hal baik yang terdapat dalam diri Jenderal Soedirman. Sesi kunjungan di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman ditutup dengan foto bersama di halaman depan museum.

Setelah semua destinasi dikunjungi peserta, peserta diarahkan kembali ke Gereja Santo Yusuf untuk melakukan penutupan. Penutupan dilakukan dengan pembuatan Mental Map yang berisikan tempat-tempat unik di Bintaran yang digambarkan oleh seluruh peserta dan penyerahan kenang-kenangan dari Komunitas Cagar Budaya kepada Pemuda Tata Ruang.

 

 Boedoet
Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net