Sumber Gambar: Dokumentasi ‘Kota Kita’

Dalam rangka memperingati Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (Hantaru) yang jatuh pada 8 November lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama HMTPWK UGM Pramukya Arcapada berkesempatan untuk mengadakan talkshow bertemakan “Kongkow Kota” pada tanggal 11 November 2016. “Kongkow Kota” kali ini mengusung tema 'New Urban Agenda dalam Perspektif Implementasi: Mewujudkan Tata Ruang Kota yang Inklusif dan Berkeadilan di Indonesia'. Pembicara pada talkshow “Kongkow Kota” adalah Mbak Paulista dari komunitas Kota Kita dan Pak Totok Suprapto selaku aktivis Kali Code dari Komunitas Pemerti Code.

 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi 

Talkshow “Kongkow Kota” pun dibuka oleh Mardha Tri Yudha Wibawa selaku Ketua Komunitas Pemuda Tata Ruang dan Virgari Nasukha, perwakilan HMTPWK UGM Kabinet Omah Dewe. Selanjutnya, Mbak Paulista dari Kota Kita menjelaskan tentang New Urban Agenda. Sebagai informasi, NUA adalah suatu komitmen global antar bangsa-bangsa di seluruh dunia yang dipelopori oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, NUA ini juga baru saja diresmikan dalam konferensi Habitat III yang diselenggarakan di Quito, Ekuador, Oktober 2016 lalu.

Mbak Paulista dalam presentasinya juga menjelaskan terkait visi dan komitmen dalam NUA. Visi dari NUA antara lain City for All (hak atas kota), Equal Rights and Opportunity, dan Cities as Human Settlement. Selain itu Mbak Paulista juga menjelaskan tentang Urban Community Academic. Mbak Paulista menekankan pentingnya Urban Community AcademicKenapa hal ini penting? Masyarakat harus mengerti bahwa dunia semakin mengkota. Urban Community Academic sendiri merupakan proses memasyarakatkan perkotaan. Urban Community Academic bisa berbentuk sosialisasi data seputar perkotaan atau community workshop 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi 

Acara selanjutnya yaitu membahas tentang ruang tepi sungai oleh Pak Totok Suprapto. Pak Totok menjabarkan beberapa masalah yang terjadi di tepi sungai seperti penyempitan sempadan sungai, banjir tahunan, dan banjir lahan. Beragam permasalah tersebut nyatanya tidak lepas dari ulah manusia, penyempitan sempadan sungai misalnya. Pak Totok bercerita bahwa sempadan sungai sempat diperjualbelikan.  Sempadan tersebut kemudian dibatasi oleh pagar-pagar pembatas. Sangat tidak lazim tentunya mengingat sempadan sungai adalah milik negara dan tidak dapat diperjualbelikan. Untuk menangani permasalahan tersebut, Pak Totok bersama aktivis lainnya mengirim surat ke pemerintahan dan menyampaikan kritiknya ke media massa. Selain itu, Pak Totok dan aktivis lainnya memasang patok atau papan edukasi tentang sempadan agar masyarakat tepi sungai mengerti daerah yang boleh dibangun dan mana yang tidak. Sedangkan upaya Pak Totok dan aktivis lainnya untuk mencegah banjir adalah memanen air hujan.

 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

Acara kemudian dilanjutkan oleh sesi tanya jawab antara narasumber dan audiens. Selanjutnya ada sosialisasi  Urban Social Forum oleh Mbak Paulista. Acara semakin seru ketika diadakan games-games berhadiah. Acara ini lalu ditutup dengan sesi foto bersama. 

 

Nawang Anandhini

Penulis merupakan Anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang Divisi Multimedia

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net