Petarung Mengikuti Kegiatan Clean Up Day: Pengelolaan Sampah untuk Wilayah RTH

Komunitas merupakan wadah yang sesuai bagi pemuda menyampaikan aspirasi, berekspresi dan berargumentasi. Tidak sedikit pemuda yang bergabung dalam satu bahkan hingga beberapa komunitas di Kota Yogyakarta ini. Isu kependudukan, penataan ruang dan lingkungan nampaknya masih menjadi isu-isu yang paling sering diangkat komunitas. Pemuda dari seluruh kalangan memiliki opini dan bergegas melakukan aksi. Apalah arti opini jika tidak direalisasikan dengan aksi peduli?

 

Minggu, 22 Oktober 2017 lalu, pemuda-pemudi dari Aliansi Komunitas Yogyakarta  menginisiasi kegiatan bertajuk Clean Up Day: Pengelolaan Sampah untuk Wilayah RTH. Sebagai informasi, dalam kegiatan ini terdapat perwakilan dari 20 komunitas lingkungan termasuk Pemuda Tata Ruang. Aksi Clean Up Day terdiri dari tiga kegiatan inti yakni membersihkan Embung Langensari, mendiskusikan ruang terbuka hijau, dan paparan singkat dari beberapa pemerhati lingkungan. Kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan dalam rangka bentuk aksi peduli untuk Embung Langensari, namun juga dapat memperluas jaringan dan mengenal satu sama lain antar komunitas agar lebih kolaboratif lagi menciptakan sebuah kegiatan.


Embung Langensari kian menjadi primadona masyarakat Kota Yogyakarta.. Selain menjadi ruang terbuka hijau, embung yang terletak di Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman ini, mampu menarik wisatawan dari luar daerah. Atas dasar itulah Pemerintah Kota (PemKot) Yogyakarta berencana menjadikan Embung Langensari sebagai ikon wisata baru. Hanya, sampai sekarang masih ada kendala kewenangan pengelolaan antara Pemerintah Provinsi (PemProv) DIY dan PemKot Yogyakarta. Keindahan yang disajikan embung ini sangat menarik bagi masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan, namun sayangnya tidak diimbangi dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.

 

Pengelolaan sampah yang kurang memadai merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Dampaknya paling nyata yakni akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap dan menganggu pemandangan. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain. Hal ini tentu tidak ingin terjadi semakin parah, maka dari itu aliansi komunitas se-Yogyakarta mengajak kawula muda untuk mencoba melakukan aksi bersih embung dan sekitarnya.


Aksi bersih-bersih dilakukan di 3 (tiga) titik embung. Sampah tidak hanya terdapat di pinggiran embung, tempat parkir dan juga di bawah pohon besar. Terlihat dari seberang, 5 (lima) orang pemuda berenang hampir ke tengah embung untuk mengeruk sampah yang sebisa mungkin didapatkan dengan bantuan pelampung. Kegiatan ini tentunya sia-sia karena pengerukan sampah dari dasar embung tidak akan semudah itu dibersihkan tanpa bantuan alat. Namun yang perlu diapresiasi adalah keberanian dan kekompakan yang tercipta sebagai suatu inisiatif menciptakan embung ruang terbuka yang bersih, rapih dan indah.


Tidak terasa hari semakin terik, membuat orang-orang yang sudah melihat keadaan sekitar tergoda untuk berdiskusi. Kegiatan diskusi pun dibuka dengan paparan pertama yang dilakukan oleh Mas Uta sebagai inisiator kegiatan ini, menjelaskan secara historis tentang Klitren, ruang terbuka hijau dan seisinya. Dilanjutkan dengan Mas Yudha sebagai Ketua Pemuda Tata Ruang yang ikut memberikan suara bagaimana penataan ruang di Kota Yogyakarta. Greenpeace dan Gomisori (asal jepang) bergantian menjelaskan contoh berhasil dalam pengelolaan sampah dan lingkungan. Peserta diskusi ikut menimpali dengan pendapat dalam suasana yang seru dan bersahabat.

 

Solusi yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah dalam menciptakan ruang terbuka yang nyaman, tentunya harus mengutamakan aspek lingkungan, pengelolaan sampah misalnya. Selain pengelolaan sampah, yang diharapkan adalah warga sekitar tidak menghasilkan sampah dan membuangnya secara sembarangan. Hal yang dapat dilakukan adalah memperhatikan sampah sesuai jenisnya dengan dimulai dari diri sendiri, dipisahkan dan dibuang sesuai tempatnya.

 

Aksi ini merupakan hal sederhana yang dapat dilakukan anak muda selaku generasi penerus yang gerah akan keruwetan Kota Yogyakarta. Hal seperti ini tidak akan berhenti disini, selanjutnya sudah digagas kembali kegiatan-kegiatan positif dalam rangka menata lingkungan dan masyarakat yang ada didalamnya. Hal yang diharapkan adalah mahasiswa tidak hanya fokus dalam urusan masing-masing, namun juga memiliki kesadaran akan kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekitarnya. (RBK)

 

Mengulik Jejak Sejarah Kawasan Bintaran

Sabtu (21/10) lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama dengan Komunitas Cagar Budaya mengadakan kegiatan Kolaboratrip 2. Kolaboratrip edisi ini bertajuk “Kawasan Bintaran dalam Arus Sejarah Kolonial dan Modern”. Rute yang diambil diawali dari Gereja Santo Yusuf Bintaran, lalu menyusuri kawasan sepanjang Jalan Sultan Agung, dan diakhiri di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman.

 

Acara dimulai pada pukul 9 pagi di halaman parkir Gereja Santo Yusuf yang diawali dengan pembukaan dan perkenalan peserta Kolaboratrip. Terdapat kurang lebih 25 peserta dalam Kolaboratrip ini, termasuk panitia yang berasal dari Komunitas Pemuda Tata Ruang dan Komunitas Cagar Budaya. Setelah melakukan pembukaan, peserta diajak untuk berpindah ke halaman depan Gereja Santo Yusuf.

Sedikit informasi, Gereja Santo Yusuf dibangun pada tahun 1933, hasil gubahan arsitek J.H. Van Oyen. Gereja ini pada awalnya didirikan berawal dari keresahan seorang keturunan Belanda-Indonesia, H. van Driessche. SJ karena pada saat itu Gereja Kidul Loji yang menjadi lokasi beribadah tidak mampu lagi menampung jumlah umat yang beribadah. Terlebih lagi, pada saat itu bangunan utama Gereja Kidul Loji hanya diperuntukkan untuk bangsa Eropa, masyarakat Jawa hanya diperbolehkan mengikuti kegiatan ibadah di gudang gereja. Alhasil didirikanlah Gereja Santo Yusuf untuk menampung masyarakat Jawa yang ingin beribadah.

 

Dalam masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Gereja Santo Yusuf juga memiliki peran dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa Kota Yogyakarta berstatus sebagai ibukota Republik Indonesia, Gereja Santo Yusuf pernah digunakan oleh Ir Soekarno untuk berdiskusi dengan Romo Soegijapranata terkait kemerdekaan Indonesia.

Ada beberapa fakta unik di Gereja Santo Yusuf ini. Seperti misalnya benda-benda yang berada di dalam gereja yang mayoritas masih asli ketika pertama kali dibangun, hingga bentuk bangunan yang ternyata mengikuti bentuk 14 lukisan yang ada di dalam gedung. Usut punya usut, lukisan yang ada sudah ada lebih dulu daripada Gereja Santo Yusuf itu sendiri. Keempat belas lukisan gubahan seniman Theo Malkenboet ini dibuat pada tahun 1901 yang pada awalnya dibuat untuk Gereja Kathedral di Jakarta. Karena tidak digunakan, maka lukisan-lukisan ini dihibahkan ke Gereja Santo Yusuf Bintaran. Menarik bukan?

 

Setelah kurang lebih satu jam menyusuri sejarah di balik Gereja Santo Yusuf, kegiatan dilanjutkan menuju destinasi kedua, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman di timur gereja. Di sepanjang perjalanan, peserta disuguhi beragam bangunan bergaya indis seperti Bioskop Mutiara, bekas Museum Biologi UGM yang pada akhir abad 19 digunakan untuk mengawasi kegiatan Pakualaman, dan masih banyak bangunan bergaya indis lainnya yang tidak diketahui sejarahnya.

 Di tengah perjalanan menuju Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, perwakilan dari Pemuda Tata Ruang menyampaikan materi terkait bangunan Cagar Budaya. Secara umum, ketentuan bangunan cagar budaya sendiri sudah diatur dalam UU No 11 tahun 2010 tentang Bangunan Cagar Budaya. Namun pada pelaksanaannya masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seperti mengubah fasad bangunan, merubah bentuk bangunan secara signifikan, hingga menghancurkan bangunan. Padahal dalam ketentuan yang ada, perubahan hanya boleh dilakukan sesedikit mungkin.

 

Perjalanan berlanjut ke Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman. Di museum ini, peserta ditemani kurator museum yakni Bapak Sukarjo. Bapak Sukarjo dengan senang hati mengantarkan peserta Kolaboratrip melihat-lihat museum yang dulunya merupakan rumah dari Jenderal Soedirman. Barang-barang yang dipamerkan berupa barang-barang yang digunakan oleh Jenderal Soedirman ketika melakukan perang gerilya maupun saat-saat terakhir beliau semasa hidup.

 

Selain mengajak melihat barang-barang peninggalan Jenderal Soedirman, Bapak Sukarjo juga bercerita banyak soal Jenderal Soedirman. Di akhir perjalanan, Bapak Sukarjo menyempatkan memberikan pesan-pesan kepada peserta untuk mencontoh hal-hal baik yang terdapat dalam diri Jenderal Soedirman. Sesi kunjungan di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman ditutup dengan foto bersama di halaman depan museum.

Setelah semua destinasi dikunjungi peserta, peserta diarahkan kembali ke Gereja Santo Yusuf untuk melakukan penutupan. Penutupan dilakukan dengan pembuatan Mental Map yang berisikan tempat-tempat unik di Bintaran yang digambarkan oleh seluruh peserta dan penyerahan kenang-kenangan dari Komunitas Cagar Budaya kepada Pemuda Tata Ruang.

 

 Boedoet
Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

 

 

Kongkow Kota ‘Hari Tata Ruang Nasional’ : New Urban Agenda dan Kisah Pinggir Kali Code

Sumber Gambar: Dokumentasi ‘Kota Kita’

Dalam rangka memperingati Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (Hantaru) yang jatuh pada 8 November lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama HMTPWK UGM Pramukya Arcapada berkesempatan untuk mengadakan talkshow bertemakan “Kongkow Kota” pada tanggal 11 November 2016. “Kongkow Kota” kali ini mengusung tema 'New Urban Agenda dalam Perspektif Implementasi: Mewujudkan Tata Ruang Kota yang Inklusif dan Berkeadilan di Indonesia'. Pembicara pada talkshow “Kongkow Kota” adalah Mbak Paulista dari komunitas Kota Kita dan Pak Totok Suprapto selaku aktivis Kali Code dari Komunitas Pemerti Code.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net