Malioboro, Ruang Publik yang Otentik

sumber gambar: Anekatempatwisata.com

Oleh : Ardianto

Pagi itu, jalanan lengang. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Menderu sesaat kemudian hilang. Malioboro sepi di pagi hari kemudian mulai ramai, bersamaan  ketika lampu pertokoan dinyalakan.

 

Jalan ternyata tidak hanya dapat dimaknai sebagai  jalur transportasi. Tempat kendaraan berpacu melawan waktu. Mengalirkan barang dan manusia dari satu titik ke titik lainnya . Di beberapa kota, ruas jalan terkadang mempunyai magis tersendiri. Jika Bandung punya Jalan Asia- Afrika, maka Yogyakarta punya Jalan Malioboro.

Kisah Negeri Bawah Tanah

Oleh: Zeindha Hamidi

 

Para cacing di Negeri Bawah Tanah sedang resah. Bagaimana tidak resah, sudah berhari-hari hujan tidak turun di negeri mereka. Akibatnya, banyak para cacing yang pada hari-hari biasa, tubuh mereka basah dan berlendir, kini menjadi kering dan kasar.

Tapi sebentar, hujan di negeri bawah tanah? Ya, hujan. Begitulah mereka menyebut suatu peristiwa ketika air dari Negeri Atas Tanah merembes ke negeri mereka. Bahasa hujan tersebut mereka dapatkan dari ilmuwan Negeri Bawah Tanah yang juga iseng-iseng belajar bahasa ke Negeri Atas Tanah. Salah satu hasil pembelajaran ilmuwan tersebut adalah diserapnya bahasa “hujan” ke dalam bahasa percakapan sehari-hari mereka di Negeri Bawah Tanah.

Rite de Passage Kota Budaya

 

Gapura Selamat Datang Kota Yogyakarta (Sumber: kfk.kompas.com)

Gapura Selamat Datang Kota Yogyakarta (Sumber: kfk.kompas.com)

Oleh: Boedoet

 Kota Yogyakarta

Gapura khas dari kota budaya itu selalu menghiasi hari-hari pengguna jalan di Jalan Solo ketika memasuki Kota Yogyakarta. Sepintas tidak ada yang istimewa dari gapura dengan tulisan “kota yogyakarta” tersebut, hanya gapura biasa yang diberi sedikit ornamen-ornamen khas jawa. Namun jangan salah, gapura itu dapat menggambarkan ciri khas sebuah kota. Gapura selamat datang yang berada di Jalan Solo pun merupakan pengukuhan atas gelar kota budaya yang ada di Yogyakarta.

Secara harfiah, Yogyakarta dijuluki sebagai kota budaya karena masih kentalnya tradisi dan upacara-upacara keagamaannya. Hingga saat ini, Keraton Yogyakarta Hadiningrat pun bukan hanya dijadikan sebagai simbol semata, namun juga turut menjadi bagian dari nadi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Dengan keunikannya tersebut, Kota Yogyakarta menjadi tujuan wisatawan yang hendak merasakan suasana budaya di kota ini. Alhasil, untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan, pembangunan tidak dapat terelakkan. Antara News mencatat bahwa pada tahun 2012 jumlah wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Yogyakarta mencapai 2,5 juta jiwa.

Rite de Passage Kota Budaya 

Rite de Passage atau ritus peralihan merupakan suatu ritual pergantian status seseorang menjadi sesuatu yang berbeda. Di Nias, Sumatera Utara, ritual ini ditandai dengan Fahombo atau lompat batu oleh masyarakat adat Mentawai. Apabila si bocah berhasil melompati batu setinggi dua meter tersebut, maka dia sudah ditasbihkan menjadi pria dewasa yang siap berperang atau menikah.

Tidak dapat dipungkiri memang perkembangan zaman secara tidak langsung berdampak terhadap kepada perkembangan kota. Bentuk kota yang terus berubah-ubah, kota yang semakin ramai, reklame-reklame yang terus menghiasi wajah kota (baca: Level Up Tata Reklame), hingga mulai bermunculan bangunan-bangunan pencakar langit. Tidak hanya dari aspek fisik semata, namun aspek sosial pun mulai mengalami perubahan. Masyarakat yang semakin individualis, semakin melek teknologi, dan lain sebagainya. Apabila Rite de Passage yang harus dilalui masyarakat adat Mentawai adalah batu setinggi dua meter tersebut, maka Rite de Passage dari kota adalah perkembangan zaman yang memaksa perubahan fisik dan sosial kota.

Kota Yogyakarta yang sudah sejak lama dinobatkan sebagai kota budaya memang sedang menghadapi pilihan sulit. Mengikuti keinginan pasar sama saja dengan menyerahkan nilai-nilai kebudayaan yang sudah menjadi nadi kehidupan. Namun apabila ingin terus berpegang pada nilai-nilai kebudayaan dan mempertahankan kota yang benar-benar mencerminkan kebudayaan seutuhnya (meskipun mungkin sangat sulit di era globalisasi saat ini), akan sangat naif apabila pemerintah tidak memperhatikan peluang investasi yang sangat berpengaruh pada Pendapatan Asli Daerah Yogyakarta. Tantangan berupa perkembangan zaman merupakan Rite de Passage yang harus dihadapi kota Yogyakarta. Apakah hendak menjadi kota Belanja dengan seribu mall? Kota wisata dengan sejuta hotel? Ataukah tetap menjadi kota budaya dengan pembangunan kota yang berdampingan dengan pelestarian budaya?

Keadilan Ruang: Salah Satu Solusi Ampuh Menghadapi Perkembangan Zaman

Mungkin anda sudah bosan dengan pernyataan bahwa keadilan ruang merupakan solusi atas beragam permasalahan tata kota di Indonesia. Tapi memang pada kenyataannya masih sulit mewujudkan keadilan ruang di Indonesia. Keadilan hanya masih dirasakan pihak-pihak berduit. Contoh yang masih hangat-hangatnya di telinga masyarakat Yogyakarta adalah fenomena Jogja Asat, ketika air tanah yang lazimnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat di beberapa titik di Kota Yogyakarta mendadak kering setelah dibangunnya sebuah hotel yang bersebelahan dengan perkampungan warga. Setelah ditelisik, ternyata hotel tersebut menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Miris memang.

Untungnya, beberapa bulan yang lalu pemerintah DIY mengesahkan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang di dalamnya mencakup unsur tata ruang dalam khazanah kota budaya ini. Artinya, kekayaan budaya demi terwujudnya tata ruang Yogyakarta yang berbudaya masih dapat terjaga dengan baik. Perdais pun diharapkan mampu menjadi instrumen pengendali keadilan ruang di Yogyakarta.

Namun, masyarakat tentu tidak boleh terpaku saja dengan Perdais ini. Masyarakat harus turut tangan mengawasi serta menjaga perubahan-perubahan tata ruang yang terjadi akibat perkembangan zaman. Di samping itu, masyarakat, investor, dan pemerintah harus duduk berdampingan dalam mewujudkan keadilan ruang di seluruh kota di Indonesia, tidak hanya di Yogyakarta. Tidak boleh ada pihak yang merasa dirugikan dengan adanya pembangunan di dalam kota.

Seperti kata pepatah Jawa kuno:

Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro

 Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

“11% Keberlangsungan Hidup Manusia di Bumi Berada pada Etika Perencana”

Deforestasi hutan di Aceh, Sumber:kicknasrullah.blogspot.com

 

Oleh: Arbi Ali Farmadi

Seluruh insan di dunia pasti merasakan keanehan di bumi dalam 10 tahun terakhir. PBBmemprediksi suhu bumi akan naik 0,3 sampai 4,8 derajat celcius pada abad ini. Hal ini sudah mulai bisa kita rasakan dampaknya.Di Indonesia sendiri contohnya, orang-orang mengeluh dan merasakan panas yang kian menyengat, musim hujan dan musim kemarau yang tak tentu kapan datangnya, serta masih banyak keanehan bumi beberapa tahun terakhir.

Keanehan bumi saat ini tidak terlepas dari aktivitas manusia terhadap lingkungan. Dalam waktu dekat, ada kemungkinan bumi tak akan lagi menjadi tempat yang aman untuk ditinggali manusia. Pada tahun 2009, para ilmuwan di dunia mengatakan terdapat sembilan batasan  bumi agar bisa bertahan dalam stabilitasnya. Sembilan batasan tersebut disebut Nine Planetary Boundaries, dengan rincian sebagai berikut:

  • Penipisan ozon stratosfer (Stratospheric ozone depletion)
  • Perubahan iklim (Climate change)
  • Perubahan tata guna lahan (Land system change)
  • Aliran nitrogen dan fosfor ke biosfer dan laut (Nitrogen and phosphorus flows to the biosphere and oceans)
  • Muatan aerosol dalam atmosfer (Atmospheric aerosol loading)
  • Konsumsi air tawar dan siklus hidrologi dunia (Freshwater consumption and the global hydrological cycle)
  • Pengasaman air laut (Ocean acidification)
  • Polusi kimia dan pelepasan novel entities (Chemical pollution and the release of novel entities)
  • Hilangnya integritas biosfer (Loss of biosphere integrity)

 

Namun pada saat ini, menurut berita dari Liputan 6 tanggal 19 Januari 2015 berjudul Ilmuwan: 4 dari 9 Batasan Bumi Sudah Dilanggar Manusia, batasan-batasan yang sudah ditetapkan telah dilanggar manusia

Para ilmuwan menyimpulkan, 4 dari 9 batasan tersebut sudah terlampaui. Yakni, perubahan iklim (level karbondioksida di atmosfer), integritas biosfer atau biosphere integrity, perubahan tata guna lahan (dipicu deforestasi), dan perubahan sistem siklus biogeokimia -- aliran nitrogen atau fosfor yang salah satunya ada dalam pupuk ke laut”

Ada kemungkinan keanehan bumi yang kita rasakan saat ini merupakan dampak dari empat batasan batas bumi yang telah terlampaui akibat aktifitas manusia di bumi. Dan satu diantara empat yang telah terlampaui merupakan perubahan tata guna lahan, yang pada kenyataannya merupakan tanggung jawab dari perencana.

Kawan, 11% keadaan bumi ada di tangan kita sebagai perencana, 11% stabilitas bumi berada pada tangan kita dalam merencanakan lahan-lahan di bumi, dan 11% kita bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup manusia di bumi.

Perubahan guna lahan yang dimaksud dalam batasan batas bumi yang berdampak besar yaitu Deforestasi. Deforestasi mendorong pengurangan keragaman hayati sehingga merusak sistem rantai makanan, berdampak pada aliran air, dan berdampak pada siklus biogeokimia karbon, fosfor, nitrogen, dan elemen-elemen penting lainnya.

Pada tahun 2007, Indonesia ditetapkan sebagai negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat diantara negara-negara yang memiliki 90% dari sisa hutan dunia. Penyebab tingginya kehancuran hutan ini merupakan tingginya industrialisasi, mulai dari industri kertas hingga industri kelapa sawit yang menjanjikan bagi pemilik modal. Dunia sungguh dilematik, Di satu sisi, lingkungan menjadi prioritas utama bagi pandangan kalangan pecinta lingkungan guna keberlanjutan tempat tinggal masyarakat di bumi dan keseimbangan alam agar bumi tidak keluar dari stabilitasnya, namun di satu sisi ekonomi menjadi prioritas utama bagi pandangan kalangan ekonom guna kesejahteraan hidup masyarakat. Keduanya sama-sama untuk masyarakat.

Memang tidak mudah bila dihadapi situasi dilema seperti diatas, lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai calon perencana muda? Milikilah ETIKA dalam diri seorang perencana, karena dengan memiliki etika kita dapat meletakkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, meletakkan apa yang seharusnya diletakkan, dan meletakkan proporsi yang sama. Lakukan hal kecil dengan etika, Kawan.

 

Mengutip quote Mother Theresia

“Not all of us can do great things, but we can do small things with great love”

 

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net