Oleh : Isti Anisya

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan salah satu pedoman pembangunan ekonomi untuk percepatan pembangunan negara Indonesia menuju negara yang adil dan makmur di tahun 2025. MP3EI merupakan konsep yang besar dan kompleks, sehingga dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pendekatan holistik (kesisteman), multidisplin, dan multisektoral. Program MP3EI mengusung tiga tema utama, yaitu: pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi, penguatan konektivitas nasional, serta penguatan kemampuan SDM dan IPTEK nasional.

Pengembangan potensi wilayah melalui koridor ekonomi memberikan gambaran bahwa masing-masing koridor pusat pengembangan wilayah yang terbagi dalam enam koridor yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulewesi, Bali dan Nusa Tenggara, serta Kepulauan Maluku dan Papua diharapkan mampu mengembangkan potensi daerah berdasarkan keunggulan yang dimiliki daerah tersebut. Seperti diketahui bahwa pembangunan di daerah Kawasan Timur Indonesia cenderung agak lebih tertinggal dibandingkan dengan daerah di Kawasan Barat Indonesia, oleh karena itu pemerintah mengambil peran penting untuk mengurangi disparitas tersebut dengan memberikan ruang dan peluang daerah di Kawasan Timur Indonesia untuk memanfaatkan potensi SDA tersebut.

Infrastruktur dan ketersediaan sarana memegang peranan yang cukup penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal peningkatan infrastruktur pelayanan di Indonesia diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program MP3EI sehingga percepatan pembangunan perekonomian di wilayah NKRI segera terwujud. Misalnya dapat dilihat pada Provinsi Papua dan Maluku, yang sampai saat ini kedua wilayah tersebut masih termasuk dalam kategori terbelakang dalam hal pembangunan infrastrukturnya.

Provinsi Papua merupakan salah satu propinsi terkaya di Indonesia dengan luas wilayahnya lebih tiga kali luas Pulau Jawa. Besarnya potensi kegiatan yang ada di Maluku dan Papua ini membuka harapan baru bagi suksesnya program-program yang ada di MP3EI ini. Akan tetapi, potensi yang begitu besar tidak akan ada artinya bila di dalam pendistribusian barang masih banyak kendala khususnya karena minimnya infrastruktur.

Ketersediaan infrastruktur yang beragam dan lengkap pada suatu wilayah juga bisa digunakan sebagai dasar penetapan pusat pertumbuhan. Hirarki suatu kota yang besar akan mempercepat perkembangan wilayah di belakangnya. Terlebih pada profil kawasan Maluku-Papua yang berbentuk kepulauan sehingga akses sedikit sulit. Hirarki kota dimaksudkan untuk dapat menentukan suatu sistem jenjang pelayanan yang dikaitkan dengan pusat-pusat pelayanan (kota) yang ada.

Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah, rawa sampai dataran tinggi, dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis, padang rumput dan padang alang-alang. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah, terutama transportasi darat, serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.

Pelabuhan laut berkembang dengan baik di Provinsi Papua. Hal ini disebabkan oleh prasarana transportasi darat kurang berkembang, terkait kendala fisik dalam pembangunan. Pelabuhan laut menjadi tumpuan pergerakan sebagai pintu masuk ke setiap kawasan di provinsi ini. Transportasi udara menjadi tumpuan pergerakan utama untuk mencapai kota-kota dalam provinsi ini dengan pertimbangan singkatnya jarak tempuh dan beberapa kota telah memiliki fasilitas ini, baik kecil maupun besar.

Di Provinsi Papua Barat, prasarana jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten dan antar ibukota kabupaten belum memadai, atau dengan kata lain, aksesibilitas merupakan permasalahan transportasi secara umum yang terjadi di provinsi ini. Hal ini dikarenakan letak geografis kota-kota/ desa-desa yang berkembang berada di pesisir laut yang dikelilingi oleh hutan-hutan, rawa-rawa, sungai-sungai, serta pegunungan yang sulit ditembus oleh kendaraan bermotor biasa.

Provinsi Maluku merupakan salah satu wilayah kepulauan di Indonesia. Karakteristik wilayah yang  heterogen  dengan ratusan buah pulau menjadikan provinsi ini berbeda (unik) dari wilayah-wilayah lain. Kondisi alam yang didominasi lautan seharusnya merupakan kekuatan atau potensi lokal (local spesific) bagi pengembangan wilayah yang berbasis pada kearifan lokalnya.

Transportasi darat meliputi jalan yang menghubungkan Kota Ambon dengan Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah dan dari Kabupaten Maluku Tengah  terhubung ke Kabupaten Seram Bagian Timur. Jaringan jalan dari Kota Ambon menuju pusat-pusat pengembangan (kabupaten disekitarnya) disebut dengan jalan Trans Seram.

Sarana dan prasarana transportasi udara di wilayah kepulauan Provinsi Maluku membagi beberapa kelas untuk kapasitas lapangan udara yang ada di Maluku. Kota Ambon sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan memiliki bandar udara tipe kelas 1 dan Kabupaten Maluku Tengah kelas 3, sedangkan kabupaten lainnya hanya memiliki bandar udara bertipe Lapter (lapangan terbang).

Sarana dan prasarana laut di wilayah kepulauan Provinsi Maluku merupakan salah satu sarana transportasi yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Adanya karakteristik sebagai wilayah kepulauan yang berbasis bahari atau maritim seharusnya didukung dengan sarana dan prasarana transportasi laut yang memadai. Fasilitas pelabuhan laut di Maluku meliputi pelabuhan yang termasuk dalam pelabuhan bongkar muat kelas 2 dengan konstruksi dermaga adalah beton dan jenis pelabuhan seperti ini terdapat di Kota Ambon dan 142 Kabupaten Maluku Tengah, sedangkan beberapa kabupaten lainnya masih berupa beton/ kayu dengan kondisi pelabuhan sebagai pelabuhan rakyat (pelra).

Jaringan transportasi di wilayah Propinsi Maluku pada masa 10-15 tahun ke depan diharapkan akan membentuk suatu sistem jaringan transportasi laut dan penyeberangan secara terpadu yang memungkinkan terhubungnya antar gugus pulau melalui  pusat kota dari gugus pulau tersebut yang diusulkan dengan istilah Trans-Maluku. Dengan konsep ini maka diperkirakan bahwa kombinasi moda penyeberangan, laut dan didukung oleh moda darat akan menjadi tulang punggung pelayanan transportasi di wilayah kepulauan terbesar di Indonesia ini, baik untuk hubungan antar pulau maupun antar pusat permukiman di dalam pulau yang sama. Sementara untuk inter koneksi di dalam pulau, moda transportasi laut ini akan memainkan fungsi yang signifikan dibandingkan dengan jaringan penyeberangan. Sehingga strategi pengembangan transportasi di Maluku dalam masa depan diharapkan dapat memperkuat penerapan Trans-Maluku ini.

*Penulis adalah pengurus Pemuda Tata Ruang (PETARUNG) dan mahasiswi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net