Sumber: Cultural Organizing 

S

ebelumnya saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman di Komunitas Petarung Tahun 2013 lalu. Ketika itu saya baru menjadi bagian dari komunitas ini dan dengan jiwa mahasiswa baru yang masih semangat dalam mendalami ilmu tata ruang, saya mengikuti salah satu kegiatan FGD (focus group discussion) bersama anggota baru lainnya. Kegiatan FGD ini juga menjadi momen dimana kami bertemu dengan beberapa ‘sesepuh’ founder Petarung yang menjadi pemantik diskusi. FGD dilaksanakan secara santai dengan tema pembangunan di Kota Yogyakarta. Isu pembangunan hotel dan mall yang sedang marak di kota ini menjadi isu hangat dengan tagar jogja asat dan jogja ora didol juga aksi-aksi warga serta mahasiswa yang mulai bermunculan. Komunitas dan aktivis lingkungan juga mulai melakukan diskusi dan kajian, salah satunya kami. Kalau tidak salah ingat, perbincangan dimulai dengan pantikan mengenai dampak positif dan negatif dari pembangunan mall atau hotel di Jogja. Dengan gaya khas para sesepuh yang dengan lihai menggoyahkan pikiran agar kami kritis dan menelaah lebih dalam, setidaknya bagi saya saat itu, kemudian bertanya;

‘pembangunan gedung-gedung itu bukannya hanya minoritas ya yang terkena dampak negatif? dan beberapa dari merekapun sudah dapat ganti rugi loh’

‘justru apakah dengan membatasi pembangunan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Jogja?’

‘Pembangunan membuat pemasukan daerah meningkat loh, bisa jadi pemasukan itu kemudian dialokasikan untuk menjadi solusi bagi minoritas masyarakat yang terkena dampak negatif’

‘karena Jogja itu Kota Wisata, sangat wajar pemerintah membangun fasilitas-fasilitas itu. Dan kebanyak masyarakat asli Jogja, wisatawan, mahasiswa perantau juga butuh dan akan memanfaatkan mall-mall tentunya.’

Dan pertanyaan ataupun pernyataan tipikal lainnya yang dulu sempat membuat saya berpikir,

‘apakah terlalu naif jika langsung memilih dan mendukung pihak masyarakat kecil yang minoritas?’

‘namun masih terlalu dini dan gegabah jika mendukung pembangunan yang selalu menguntungkan satu pihak saja’

‘lalu bagaimana? Ini baru berbicara Kota Jogja, bahkan masih sangat banyak di Indonesia yang menghadapi kasus serupa’

‘gap antara yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin terus saja membesar, haruskah mendukung satu pihak dan menutup mata pada pihak lainnya? Atau secara oportunis memihak keduanya?’

‘akankah semuanya dapat setara? Haruskah semuanya setara? Ataukah keadaan seperti ini sudah seimbang?’

Setara atau seimbang?

Berbicara masalah setara atau seimbang, perumpamaan yang paling mudah untuk dapat membandingkan keduanya adalah mengenai perbandingan antara seorang ibu dan seorang ayah di sebuah keluarga sederhana. Seorang ibu mengurus rumah tangga dengan susah payah dan mengurus kebutuhan suami serta anaknya dari pagi hingga malam hari. Bahkan terkadang seorang ibu dituntut untuk mengurangi jam tidurnya dan mendahulukan keinginan anak-anaknya dibandingkan kebutuhannya. Ketika itu juga si-ayah bekerja di kantor dengan komposisi jam kerja dan istirahat serta candaan dengan rekan kerja yang pas. Duduk di meja kerja yang nyaman dan terkadang sempat untuk membuka hal-hal lainnya di komputer.

Namun terkadang juga si-ayah bekerja lembur seharian dengan tekanan atasannya dan cibiran rekan kerjanya dengan tumpukan dokumen yang tak habis-habis. Ketika itu juga si-Ibu santai memotong sayuran di depan TV dibantu oleh tetangganya diiringi obrolan mengenai kecerobohan dan prestasi anak masing-masing.

Seimbang atau setara?

Karena sekarang saya berada di jenjang perkulihan, mungkin dapat mecontohkan hal-hal mengenai mahasiswa. Ketika seorang mahasiswa tipikal perantauan berada di kos yang sehari-harinya dengan mudah datang kuliah tepat waktu pukul 7 padahal baru beranjak dari kasur pukul 6.30. Disaat seorang mahasiswa yang rumahnya terpaut 20 KM dari kampus harus bangun pukul 4.30 kemudian membantu ibunya memasak kemudian berangkat sekitar pukul 6 sembari mengantar adiknya ke sekolah. Ketika datang ke kampus kadang terlambat dengan raut wajah ngantuk dan lelah.

Namun si-anak kos ini terkadang menagis setelah mendapat telfon dari ayah ibunya tiap hari. Tiap harinya juga membeli makanan dengan rasa yang lezat namun penuh penyedap rasa dan minim gizi. Ketika awal bulan, terlebih dulu ia melihat menu makanan di sebelah kiri dengan nama-nama yang menggiurkan, namun di akhir bulan harus menerima kenyataan untuk mempertimbangkan menu disebelah kanan dengan angka-angkanya. Pikirannya dipenuhi dengan kalkulasi jenis makanan yang tak meraup biaya lebih dan kegembiraan ketika menemukan uang di saku celana. Sementara si-anak rumahan, setiap harinya menyantap sarapan tepat jam 6 pagi dengan perpaduan rasa dan gizi yang pas. Terkadang membawa bekal makanan dan potongan buah yang segar untuk makan siang. Ketika pulang sore atau ,alam haripun sudah tersedia nasi hangat dan lauk pauk di meja makan.

Setara atau seimbang?

Karena saya memiliki latar belakang sebagai akademisi, marilah berbicara mengenai perumpamaan yang lebih intelek. Pemerintah Indonesia pada periode Presiden Jokowi mencanangkan program prioritas pada pembangunan infrastruktur. Baik itu pembangunan insfrastruktur untuk meningkatkan aksesibilitas antar daerah maupun optimalisasi sumber daya laut dengan pemekaran wilayah darat-laut serta pembangunan tol laut. Namun tidak hanya pembangunan infrastruktur dengan kesan modernisasi saja, pemberdayaan sumber daya desa dengan fokus pada pembiayaan pembangunan juga diprogramkan dengan kucuran dana tak tanggung-tanggung pada tiap desa tiap tahunnya.

Seimbang atau setara?

Mengenai perumpamaan antara ibu atau ayah, walaupun sarat akan isu gender namun secara logika serta emosional maupun kompetensi dan bakat dalam mengerjakan sesuatu telah jelas perbedaannya. Tak perlu didebatkan lagi mengenai naluri-naluri seorang ayah dan ibu yang memiliki fungsi dan peran saling melengkapi dalam keluarga. Dan mengenai anak kos atau rumahan, jelas masing-masing berada pada perbedaan kondisi yang menjadikan adanya nilai plus dan minus dalam berbagai konteks kehidupan mahasiswanya. Kemudian perumpamaan terakhir mengenai pembangunan, dan karena ini adalah komunitas Pemuda Tata Ruang, kasus ini mungkin lebih tepat untuk dijadikan simpulan dari pilihan akan kesetaraan atau keseimbangan yang mungkin tidak akan disimpulkan.

Ketika program pembangunan infrastruktur dilaksanakan, tentunya polemik pembangunan tak dapat terbantahkan. Kajian dampak lingkungan pada pemekaran teluk jakarta misalnya, yang juga diiringi protes akan dampak sosial-budaya masyarakat kampung nelayan. Serupa dengan kasus pabrik semen di Jawa Tengah dan tak berbeda jauh dengan isu berslogan ‘aku ingin pindah ke Meikarta’ yang semakin membuat kontras dan memperlebar gap masyarakat. Dengan perspektif yang lebih luas dan menyeluruh, gap antara masyarakat menengah kebawah dan menengah keatas menjadi semakin timpang oleh pembangunan. Membuat pihak yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Dimanakah kesetaraan? Dimanakah keseimbangan?

Apakah esensi aspek ekonomi dan materil yang menggiring orientasi pembangunan saat ini? Karena saat ini istilah pembangunan yang berasal dari kata bangun, membuat sesuatu agar terbangun, seolah-olah menjadi kata yang kontradiktif dengan pelaksanaannya. Pro-kontra pembangunan terus bermunculan dan dijadikan senjata seiring dengan dinamika politik serta pergantian posisi-posisi strategis di tingkat nasional maupun daerah. Pada akhirnya orientasi materil, dalam hal ini uang, menjadikan beberapa pemegang kebijakan dan pelaksana pembangunan secara bergiliran tak pernah absen dari list tersangka korupsi, setidaknya yang dapat saya lihat dan baca di media massa.

Jadi, akankah masyarakat menengah kebawah merasakan kesetaraan dengan masyarakat menengah keatas? Dapatkah suatu saat kesetaraan itu tercapai? Haruskah sama rata sama rasa?

Atau, definisi kaya dan miskin sendiri yang menjadikan gap antara keduanya semakin menjauh? Apakah istilah ‘si-kaya’ dan ‘si-miskin’ yang ada terlebih dahulu atau istilah ‘uang’ yang memunculkan kedua istilah tersebut?

Atau, miskin dan kaya akan senantiasa ada dan tak akan pernah setara, namun apa yang ‘si-miskin’ dapatkan harus seimbang dengan apa yang ‘si-kaya’ dapatkan. Sehingga keseimbangan tercipta dan antara keduanya dapat sama-sama merasakan?

Keseimbangan atau Kesetaraan?

 

Oleh:

Niswati Mardliyyah

Penulis merupakan Anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net