Pesepeda di Malioboro

Foto: Dokumentasi Komunitas Pemuda Tata Ruang

N

on-motorized transportation (NMT) adalah pendekatan baru yang cocok diterapkan untuk mengurai masalah transportasi di Jogja. Sesuai namanya, NMT mengandalkan moda transportasi seperti sepeda dan berjalan kaki dalam sistem utama transportasi kota. Apapun jenis transportasi lain asalkan tidak bermesin (misal: dokar atau becak), itu juga bisa masuk hitungan sebagai NMT. Transportasi umum, kalau tenaga penggeraknya menggunakan mesin, tetap diadakan dan menjadi sistem pendukung.

Lantas kenapa pendekatan ini dipandang cocok untuk Jogja? Karena pendekatan ini lebih banyak fokus ke kultur daripada infrastruktur. Nah soal kultur, walaupun pendekatan ini bisa dibilang baru buat banyak kota di negara berkembang, kultur ini sama sekali bukan hal baru buat Jogja. Sebelum akrab dengan kemacetan, Jogja sudah cukup lama pernah menerapkan kultur NMT ini, setidaknya sampai Herry Zudianto selesai menjabat sebagai walikota. Memang sih nggak pakai label mentereng dan keminggris. Waktu itu labelnya lebih sederhana dan sangat njogjani sekali: "Sego Segawe". SEpeda kangGO SEkolah lan nyambut GAWE. (baca: Sepeda untuk bersekolah dan bekerja)

Dengan semangat untuk menggiatkan Sego Segawe ini, Jogja mulai punya infrastruktur jalur sepeda di sisi kiri-kanan jalan, ruang tunggu sepeda di tiap bangjo, hingga papan petunjuk arah jalan pintas khusus sepeda di seluruh penjuru kota. Secara kultur, PNS balaikota setiap Jumat juga diwajibkan bersepeda/berjalan kaki untuk datang/pulang kantor (dan kendaraan bermotor dilarang parkir di kompleks balaikota pada hari tersebut). Mulai tumbuh pula gerakan JLFR (Jogja Last Friday Ride). Lalu apa masih ada yang ingat dengan Mangkubumi Late Nite Bicycle Playground? Semua program-program kultural, penyediaan infrastruktur, dan munculnya dukungan dari masyarakat dalam label besar "Sego Segawe" itu sungguh sudah NMT banget. Sudah on the track. Jogja sudah pernah memiliki cetak biru NMT yang begitu bagus, tinggal saat ini digiatkan kembali dan dikembangkan lebih lanjut.

Pendekatan Kultur

Lalu, apa sih yang masih harus dikembangkan supaya NMT ala Jogja ini makin bagus lagi? Sekali lagi, NMT adalah pendekatan kultural. Kultur berjalan kaki ataupun bersepeda. Kita sudah punya contoh kultur bersepeda yang sip dalam program Sego Segawe maka kini saatnya bicara tentang kultur berjalan kaki kita.

Orang Jogja yang tinggal di perkotaan ini malas sekali apabila disuruh berjalan kaki. Malas capek, malas berkeringat. Pergi ke warung yang jaraknya 100-200 meter saja, orang merasa perlu mengeluarkan motor.  Kalau orang Jogja yang tinggal di gunung atau di desa, aku yakin tidak semanja itu. Minimal tidak separah orang-orang Jogja kota. Simbah-simbah yang tinggalnya di gunung dan profesinya bertani atau berkebun, meski sudah sepuh sekalipun pasti setiap hari masih beraktivitas dengan berjalan kaki atau bersepeda. Entah untuk nyawah, entah ngarit, entah mencari tumpukan rumput untuk pakan ternaknya.

Nah, kultur semacam inilah yang harus digiatkan kepada orang kota supaya orang kota tidak terlalu manja. Kita mesti mulai belajar membiasakan dari diri kita sendiri. Berjalan kaki jika hanya butuh berpindah tempat dengan jarak kurang dari 1 kilometer. Secara matematis, kecepatan normal orang berjalan kaki itu sekitar 4 kilometer/jam sehingga idealnya orang berjalan kaki dengan jarak sejauh 500 meter sampai 1 kilometer hanya akan menghabiskan waktu 7-15 menit saja. Orang normal harusnya tidak akan capek kalau diajak membiasakan berjalan kaki dalam durasi sesingkat itu.

Pendekatan Infrastruktur

Nah dari patokan sederhana ini, pemkot juga bisa mulai bergerak menyiapkan infrastruktur pendukung untuk "mendorong" orang-orang supaya menjadi terbiasa dan senang berjalan kaki. Tentu tidak lupa kita harus mengapresiasi kinerja pemkot di periode sekarang yang sudah menyediakan papan petunjuk jalan khusus pejalan kaki di beberapa titik persimpangan jalan strategis. Walaupun, cukup terlihat jelas kalau papan petunjuk itu lebih berguna bagi turis daripada untuk warga karena hanya tersedia di sekitar daerah wisata saja.

Oke, lalu apa selanjutnya? Pemkot perlu menata ulang desain trotoar di seluruh penjuru kota agar nyaman dan menarik orang agar mau berjalan kaki sejauh 500 meter sampai 1 kilometer. Jangan hanya membangun trotoar dengan kondisi seadanya. Jangan pula membangun trotoar hanya karena bertujuan mengejar target penyerapan APBD di kuartal keempat. Di titik-titik yang trotoarnya tidak layak karena terlalu sempit, buatlah proyek pelebaran trotoar. Sebab sudah sangat jelas trotoar yang lebar itu membuat orang merasa nyaman dan betah berjalan kaki. Tentu tidak perlu memiliki trotoar selebar pedestrian Malioboro, namun minimal dua kursi roda bisa lewat berpapasan dengan gampang dan aman itu sudah cukup. Pastikan pula di tiap ujung-ujung trotoar ada jalur melandai yang tidak curam sebagai fasilitas pengguna kursi roda untuk bisa turun dari trotoar.

Khusus untuk jalan-jalan yang terlalu sempit dan trotoarnya benar-benar tidak bisa dilebarkan lagi dengan cara apapun, trotoar bisa dilebarkan dengan memanfaatkan jalur sepeda sehingga jalur sepeda tidak lagi di atas aspal, namun ada di atas mix-used trotoar. Alternatif lainnya, sisi trotoar yang dilebarkan cukup di satu sisi jalan saja mengingat semua trotoar itu sesungguhnya bersifat jalur dua arah bagi pejalan kaki.

Lalu, pemkot perlu ingat juga kalau trotoar itu bukan merangkap jalur hijau atau jalur utilitas kota. Trotoar adalah jalur khusus bagi pejalan kaki atau pengguna kursi roda atau pesepeda. Kalau mau meletakkan pot-pot besar tanaman eksterior jalan untuk penghijauan kota, memancangkan tiang-tiang listrik atau rambu lalu lintas, hingga menanam berbagai utilitas di bawah tanah, idealnya pemkot membuat jalur utilitas kota dan jalur hijau secara tersendiri di samping trotoar. Bukan semuanya tumpang tindih berebut tempat di trotoar.

Tentu kita tidak lupa juga kalau Jogja ini ada di negara tropis dengan suhu yang semakin hari semakin panas saja. Itu sebabnya tidak ada salahnya kalau pemkot juga menyediakan pergola (seperti yang ada di seantero kampus UNY) untuk “memayungi” pejalan kaki di trotoar. Berilah juga street furniture berupa bangku-bangku tanam dan keran air minum dalam jarak beberapa ratus meter sebagai fasilitas bagi pejalan kaki untuk beristirahat dan melepas dahaga sejenak saat sudah merasa lelah berjalan kaki.

Sebenarnya tidak terlalu susah untuk mewujudkan sistem NMT di Jogja ini sebab akarnya sudah tertanam kuat. Asal pemkot memang memiliki goodwill untuk menghidupkan kultur berjalan kaki dan mau berusaha menyediakan infrastruktur yang layak, membuat warga Jogja (kembali) suka berjalan kaki itu adalah pekerjaan yang mudah.

 

Oleh:

Ageng "Ale" Yudhapratama 

Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net