Sumber gambar: huffingtonpost.com/courtney-meaker/walking-while-fat-and-female_b_5311083.html

Berjalan kaki di Kota Yogyakarta barangkali adalah salah satu mimpi buruk.

Meskipun sama-sama merupakan kota yang terletak di kaki gunung, harus diakui cuaca di Kota Yogyakarta tidak lebih sejuk kalau dibandingkan dengan Bandung, Malang, atau Magelang. Cukup mencoba berjalan kaki sebentar saja di siang hari, dipastikan keringat akan langsung bercucuran di sekujur badan. Ditambah lagi, cukup banyak ditemui trotoar di kota Kota Yogyakarta ada dalam kondisi mengenaskan. Sempit, rusak, tidak tersedia guiding block, level ketinggiannya naik-turun, dan sering terhalang aneka macam rintangan (tiang, pot tanaman, PKL, parkir, tempat mangkal ojek/becak/bentor).

Parahnya lagi, di beberapa ruas jalan utama di dalam kota, masih ada tepian jalan yang tidak memiliki trotoar sejengkal pun di sisi badan jalannya. Sangat tidak manusiawi untuk dipakai berjalan kaki sehari-hari. Barangkali satu-satunya trotoar yang cukup diperhatikan pemerintah dan masih laku dilewati keramaian pejalan kaki hanyalah trotoar di kawasan jantung wisata Malioboro.

Hemat kata, Kota Yogyakarta adalah kota yang tidak nyaman untuk berjalan kaki. Walaupun ada sejumlah trotoar yang cukup lebar –seperti di Malioboro dan Mangkubumi— standar umum trotoar yang ada di kota ini berukuran sempit dan sulit dilebarkan lagi karena lebar jalanan kotanya juga sudah sempit. Saking sempitnya lebar jalanan kota, di beberapa ruas jalan sudah diterapkan kebijakan jalan satu arah. Tentu tujuannya untuk melancarkan lalu lintas kendaraan tanpa perlu membongkar trotoar atau menghapus jalur sepeda.

Namun tetap saja di ruas-ruas jalan yang sudah diberlakukan kebijakan satu arah, trotoarnya tidak serta-merta ikut dilebarkan. Penghambatnya jelas bukan karena terhalang keberadaan si garis kuning putus-putus –penanda jalur sepeda. Namun pemerintah masih harus tetap mengakomodasi parkiran tepi jalan di ruas-ruas jalan yang sudah diberlakukan satu arah tersebut.

Dengan kondisi yang sedemikian kompleksnya, “parklet” mungkin bisa menjadi konsep menarik untuk coba dipraktikkan di Kota Yogyakarta.

 

Sumbet gambar: inhabitat.com/tag/parklet/

 Apa itu parklet? Parklet adalah sebuah konsep simple public space yang diinisiasi pertama kali di Kota San Fransisco, Amerika Serikat. Saat ini ide parklet ini sudah menyebar di kota-kota di Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, hingga Australia. Konsep ini mencoba memanfaatkan sebagian ruang di setiap beberapa meter parkiran tepi jalan sebagai "perluasan trotoar" yang menjorok ke badan jalan..

 

Sumbet gambar: inhabitat.com/noriega-street-parklet-is-a-succulent-meeting-spot-crafted-by-the-community-in-san-francisco/

Umumnya parklet memakan ruang selebar 2-3 space parkir mobil. Di parklet ini, bisa disediakan tempat duduk, peneduh/perindang, green space, parkiran sepeda, hingga instalasi seni jalanan. Tujuannya sebagai public space untuk warga kota agar bisa duduk-duduk santai menikmati suasana kotanya, atau untuk tempat istirahat bagi pejalan kaki yang kelelahan. Di sisi lain, para juru parkir selama ini yang mencari rezeki dari memarkiri kendaraaan tidak perlu diusir. Tidak perlu memancing resistensi dari juru parkir. Pemerintah hanya perlu meminta sedikit space parkiran untuk dijadikan parklet.

Parklet memang bukan hal penting penting bagi lokasi-lokasi di pusat kota yang trotoarnya sudah cukup lebar. Akan tetapi, parklet menjadi sangat bermanfaat untuk melengkapi trotoar-trotoar di tengah kota yang terlalu sempit, sehingga tidak memungkinkan untuk meletakkan bangku-bangku di trotoar. Apalagi jika kota tersebut juga tidak memiliki taman kota dan public space dalam jumlah yang cukup memadai, seperti di Kota Yogyakarta.

Lokasi parklet yang ideal adalah jika ditempatkan di titik-titik ruas jalan utama pusat kota yang tepian jalannya sudah “permanen” sebagai lokasi parkiran dan tidak pernah sepi dengan kendaraan parkir. Dengan demikian pengguna parklet otomatis terlindung dari keramaian arus lalu lintas. Sebab ramainya mobil/motor yang selalu memenuhi tempat parkir akan menjadi “pelindung” dan meminimalkan risiko warga atau pedestrian yang sedang duduk-duduk bersantai di parklet untuk tertabrak kendaraan.

Untuk kota Kota Yogyakarta, lokasi yang kira-kira memenuhi syarat tersebut ada di ruas jalan satu arah sepanjang Jl. Urip Sumoharjo-Jenderal Sudirman, Jl. Herman Yohanes, dan Jl. C. Simanjuntak. Ketiga lokasi ini bisa dijadikan lokasi percontohan pemasangan parklet. Sebab, ketiganya adalah lokasi yang selalu ramai aktivitas perekonomian. Selain itu, kompleks pertokoan di ketiga lokasi tersebut mayoritas tidak memiliki lahan parkir memadai sehingga memanfaatkan pinggiran jalan untuk menampung parkir kendaraan konsumen.

Di lokasi-lokasi tersebut nantinya bisa dipasang sebuah parklet dalam jarak setiap 300-400 meter. Keistimewaan Kota Yogyakarta bisa dimunculkan dengan tema serta desain yang kreatif dan tidak monoton antara satu parklet dengan yang lain. Apabila tidak memungkinkan membuat parklet permanen, hadirkan saja parklet temporer. Banyak kota di dunia yang juga menerapkan konsep parklet temporer yang bisa dibongkar pasang dengan mudah.

Jika inisiatif ini disambut baik, selanjutnya parklet bisa dipasang di seluruh jalan protokol Kota Yogyakarta. Warga Kota Yogyakarta pun lama-lama akan merasa nyaman untuk berjalan kaki untuk bermobilitas jarak dekat. Sebab mereka tahu ada public space yang tersedia untuk tempat mereka beristirahat dan bersantai sejenak kalau merasa capai, tanpa perlu mampir dulu ke minimarket.

 

Sumbet gambar: voiceofsandiego.org/topics/news/give-the-parklet-a-little-credit/

Pada akhirnya, selain menjadi inovasi untuk mencukupi kebutuhan public space, bukan tidak mungkin parklet akan menjadi identitas abru yang melekat dengan image Kota Yogyakarta.

 

Ageng ‘Ale’ Yudhapratama

Penulis merupakan Anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net