Sumber gambar: kompasmuda.com

Timpang.

Itu satu kesan yang saya dapat selama ini mengikuti informasi mengenai pembangunan Semarang. Bagi yang belum begitu mengenal Semarang, ibukota Jawa Tengah ini oleh warganya kerap “dibagi” menjadi Semarang bawah dan Semarang atas. Semarang bawah mencakup daerah dataran rendah yang dekat dengan pantai, serta menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan kota Semarang. Kebanyakan obyek wisata kota yang terkenal juga berlokasi di Semarang bawah. Misalnya saja Tugu Muda, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, atau Masjid Agung Jawa Tengah. Sedangkan  Semarang atas adalah daerah kota Semarang berada di kaki Gunung Ungaran dengan kontur berbukit-bukit.

Saat ini boleh dikatakan Semarang bawah sedang habis-habisan mempercantik diri. Dimulai dari pembenahan trotoar di tepian jalan-jalan protokol, termasuk di kawasan sekitar tiga landmark terkenal, Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Simpang Lima. Hasilnya trotoar di jalan-jalan protokol tersebut layak mendapat apresiasi karena dapat memenuhi hak pejalan kaki secara layak. Beberapa taman kota pun dipercantik sehingga sedap dipandang.

Kemudian di seputar kawasan Simpang Lima, Pemkot memutuskan untuk menghapus jalur lambat. Selain trotoar menjadi makin lebar, Pemkot juga memanfaatkan bekas jalur lambat untuk lokasi program penataan PKL. Program ini relatif sukses. Hingga pola penataan PKL ini diterapkan lagi saat Pemkot hendak menata para pedagang tahu gimbal di kawasan Taman KB (Taman Menteri Supeno).

Pemkot Semarang juga mencurahkan konsentrasi besar untuk mengatasi banjir. Banjir Kanal Barat dibenahi total. Kanal pengendali banjir ini kini tampil bersih dan apik. Saat ini bantaran di beberapa ruas Banjir Kanal Barat telah bebas dari bangunan liar serta dilengkapi fasilitas umum jogging track untuk sarana warga kota berolahraga. Pemkot juga berupaya maksimal menjadikan kawasan bersejarah Kota Lama bebas banjir dengan membangun polder penampungan air di depan Stasiun Tawang.

Namun jika semua proyek pembangunan tersebut terkonsentrasi di Semarang bawah, lalu apa kabar Semarang atas? 

Mewujudkan Cetak Biru Jalan Lingkar Selatan Semarang

Saya mungkin tidak jujur jika berkata Semarang atas sama sekali tidak terbangun. Kawasan Semarang atas yang dilalui akses jalan utama Semarang-Ungaran, sudah berkembang sangat pesat. Daerah ini pun juga berkembang dengan banyaknya perumahan elit. Apalagi kampus terpadu dua PTN ternama, Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang, juga berlokasi di Semarang atas. Namun perkembangan daerah Semarang atas di luar jalan raya tersebut sangat stagnan. Bahkan ada beberapa wilayah yang perkembangannnya tidak hanya stagnan, namun bisa disebut terisolasi. Contohnya kawasan di Mijen dan Gunungpati. Situasi ini sangat berbeda 180 derajat dibandingkan kondisi di pusat kota.

Masalah utama stagnansi ini tentu saja adalah keterbatasan infrastruktur di Semarang atas, terutama dalam hal ini jalan raya. Panjang kilometer jalan yang membentang di Semarang atas jauh lebih pendek daripada panjang ruas jalan yang tersedia di Semarang bawah. Bahkan akses antar wilayah di Semarang atas pun sampai hari ini belum terhubung dengan baik. Contoh paling konkret, apabila kita hendak pergi dari kampus Undip Tembalang ke kampus Unnes Gunungpati, kita harus mengambil jalan memutar melalui Semarang bawah. Kalau tidak, ada pilihan kedua yaitu memutar ke luar kota melalui Ungaran (Kabupaten Semarang). Cukup lucu membayangkan bahwa ada kota dengan status ibukota provinsi tapi warganya harus “meminjam” jalan penghubung yang terbentang di wilayah kabupaten tetangga sekadar untuk melakukan mobilitas warga kota dan masih di dalam wilayah kota. Padahal Tembalang dan Gunungpati adalah kecamatan bertetangga di Semarang atas dan kedua wilayah ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai Kali Garang. Ironis.

Solusinya jelas: Pemkot harus serius untuk menjahit Semarang atas dengan membangun jalan-jalan penghubung baru. Kota Semarang wajib membangun jalan arteri non-tol baru di wilayah Semarang atas untuk menciptakan konektivitas yang merata di seluruh wilayah kota. Dalam cetak biru pengembangan Kota Semarang, telah tergambar rencana pembangunan jalan lingkar selatan (JLS) Semarang. Mengambil titik awal di daerah Mangkang di daerah barat Semarang, jalan ini akan melingkari seluruh daerah di pinggiran selatan kota. Seperti Ngaliyan, Mijen, Gunungpati, Banyumanik, Tembalang, Pedurungan, dan berakhir di Genuk yang berada di wilayah timur kota .

Realisasi pembangunan ini barangkali merupakan proyek pembangunan infrastruktur yang paling mendesak bagi kawasan Semarang atas. Pertama, adanya JLS akan melengkapi jalan arteri (jalan lingkar utara) yang saat ini sudah ada sehingga Semarang memiliki jalan lingkar yang utuh. Ringroad ini penting dimiliki bagi kota dengan mobilitas yang sudah setinggi Semarang, terutama untuk mengatasi kemacetan. Keberadaan JLS pun juga dapat membantu “membuang” sebagian kendaraan-kendaraan berat seperti bus dan truk yang sejatinya tidak perlu memadati lalu lintas dalam kota.

Kedua, keberadaan jalan ini juga efektif untuk memudahkan keseharian penduduk wilayah-wilayah pemukiman di beberapa kecamatan di Semarang yang hingga masih “terisolasi” dan tempat tinggalnya tidak terasa sebagai kota. 

Obyek Wisata Wana Penggaron (sumber gambar: putrajayatrans.com)

Ketiga, promosi destinasi pariwisata seperti Goa Kreo atau Wana Wisata Penggaron yang terletak di pinggiran kota juga akan sangat terbantu dengan adanya akses jalan yang baik bagi wisatawan, baik dari dalam kota maupun luar kota. Terlebih jika ke depan Pemkot atau Pemprov berencana mengangkat destinasi wisata lain yang juga terletak di pinggiran kota, seperti misalnya agrowisata desa penghasil durian di Gunungpati.

Sayangnya perkembangan proyek ini sangat jarang dilirik media lokal atau dipersoalkan oleh warga kota. Apabila sesekali disinggung pun, Pemkot pun berdalih dengan alasan tanah di wilayah rencana pembangunan JLS banyak yang labil dan rawan longsor. Sehingga diperlukan kajian ulang yang lebih matang. Memang benar bahwa desain konstruksi perlu dirancang sangat teliti apabila konstruktor menemui struktur tanah yang rawan longsor di lokasi. Hal ini pun sedikit-banyak bisa berdampak pada membengkaknya anggaran. Namun sampai kapan kajian ulang itu bisa dirasakan warga dalam bentuk realisasi JLS? Jika pembangunan jalan tol Semarang-Ungaran yang sempat menghadapi masalah serupa pun akhirnya pelan-pelan dapat menemukan jawaban, mengapa kendala di JLS terkesan dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi?

 

Ageng ‘Ale Yudhapratama

Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net