(17/5) Komunitas Pemuda Tata Ruang menghadiri sebuah forum diskusi yang diadakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan tema “Inclusive City”. Tidak hanya di Yogyakarta beberapa forum diskusi juga dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia seperti di Semarang dengan tema Resilient City, dan juga di Bali.  Agenda ini diharapkan akan menjadi draft bahan untuk menuju HABITAT III. Forum yang dilaksanakan di Hotel Jambuluwuk ini merupakan rangkaian acara persiapan menuju PrepCorm (Preparatory Committew Meeting) 3 di Surabaya Juli 2016, yang nantinya akan didiskusikan di Surabaya dan kemudian dibawa ke Forum UN HABITAT (United Nation Human Settlements Programme) III di Quito Ekuador, Oktober mendatang.

Agenda forum yang membahas tentang bagaimana Inclusive City ini dihadiri oleh empat narasumber, yaitu Dr.Ir Ruchyat Deni  Djakapermana selaku perwakilan dari Tenaga Ahli Direktur Jendral Cipta Karya untuk Bidang Habitat, Prof. Dr. Sunyoto Usman Guru Besar Sosiologi UGM, dan Ir. Edy Muhammad yang merupakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Yogyakarta serta Emmy Yuniarti Rusadi.

Sumber Foto: Dokumentasi Komunitas PETARUNG

Forum yang dibuka oleh Ibu Diana selaku perwakilan dari Kementria PUPR menyampaikan harapan yang besar dari forum. Acara ini dimoderatori oleh dosen Pengembangnan Wilayah Fakultas Geografi UGM, Ibu Rini Rachmawati dan dimulai dengan presentasi dari masing-masing narasumber.

Untuk menghadapi HABITAT III, Dr.Ir Ruchyat Deni memaparkan bagaimana masalah-masalah yang terjadi di perkotaan dan menjadi konsentrasi global. Konfrensi HABITAT III diadakan guna menghidupkan kembali komitmen global untuk urbanisasi yang berkelanjutan. Pak Deni menyampaikan bahwa rangkaian HABITAT merupakan siklus 20 tahunan, HABITAT I yang di adakan pertama kali di Kanada pada 1976 menghasilkan dua poin utama, pertama kesadaran bahwa hunian layak dan urbanisasi merupakan isu global yang harus ditangani secara kolektif dan yang kedua adalah pembentukan United Nations Centre for Human Settlements (UNCHS, yang sekarang dikenal sebagai UN HABITAT). Pada tahun 1996 di Istanbul, Turki dilaksanakan HABITAT II yang juga menghasilkan beberapa butir hasil konferensi diantaranya kota adalah mesin pertumbuhan global, urbanisasi adalah peluang, menghimbau penguatan peran pemerintah daerah dan yang terakhir adalah pengakuan terhadap kekuatan partisipasi. Hasil dari HABITAT II ini muncul konsep Sustainable atau keberlanjutan

 

Pak Deni (nomor dua dari kanan) menyampaikan materi terkait UN HABITAT

Sumber foto: Dokumentasi pribadi Komunitas Pemuda Tata Ruang

Pada 2016 ini Pak Deni menyampaikan bahwa penduduk lebih dari 50%, bahkan untuk Asia Pasifik sendiri  lebih dari 60% nya di dalam wilayah perkotaan. Selain masalah penduduk yang terus meningkat, isu Climate Change juga dihadapi oleh masyarakat global. Pelaksanaan HABITAT III yang dilaksanakan pada Oktober 2016 di Quito, Equador ini diselenggarakan untuk membangun komitmen politik, menelaah pencapaian agenda HABITAT dalam menaggulangi kemiskinan dan membangun agenda baru perkotaan terkait persoalan-persoalan yang telah disebutkan diatas. Prepcorm 3 yang nantinya dilaksanakan di Surabaya merupakan hasil akhir dan nantinya secara formalitas akan disahkan oleh PBB di Equador.

Pemaparan kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Sunyoto Usman yang merupakan guru besar Sosiologi UGM yang membawa tema Pembangunan Kota Inklusif: Tantangan, Isu dan Permasalahan. Jika berbicara tentang Kota Inklusif maka hal yang dibahas adalah struktur sosial yang ada di perkotaan. Masalah yang terkait transportasi dan lain-lain sudah sesuai, yang menjadi masalah adalah konsep-konsep pembangunan yang ada itu belum bisa sepenuhnya diaplikasikan dalam dunia nyata. Persoalan tentang sosial dan politik dan juga pakar-pakar yang berkecimpung pada bisang-bidang tersebut masih gamang dengan isu-isu yang ada. Beliau juga memaparkan bahwa implikasi dari pemangku-pemangku kepentingan akan mempengaruhi dalam pemanfaatan ruang yang ada. Ide-ide yang terkait tentang pembangunan infrastruktur juga menjadi tantangan karena tidak semua kota sanggup dengan penyediaan infrastruktur yang diamanahkan oleh PBB. Prof Usman juga mengatakan bagaimana peran universitas dalam sistem ini. Keberagaman yang menghiasi kota tidak bisa dibilang sedikit, ekologi dan demografi, industri barang dan jasa, status soisal dan ekonomi, untuk varian kota yang inklusif membutuhkan peran dari banyak stakeholders dan membutuhkan derevasi. Tantangan yang dihadapi oleh masayarakat sekarang adalah perubahan-perubahan ruang yang juga terdapat konflik sosial yang tinggi.

 

Prof. Dr. Sunyoto Usman dalam forum diskusi yang dilaksanakan di Hotel jambuluwuk

Sumber foto: Dokumentasi pribadi Komunitas Pemuda Tata Ruang

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Yogyakarta, Ir.Edy Muhammad memaparkan tentang kaitan Kota Yogyakarta dalam menghadapi isu Kota inklusif. Kota inklusif merupakan sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan lingkungan fisik dan sosial yang semakin terbuka secara menyeluruh, pewujudan pelayanan yang melayani seluruh semua warganya. Kepala BAPPEDA Kota Yogyakarta ini memaparkan program-program yang dimiliki oleh Kota Yogyakarta merupakan awalan yang baru dimulai. Penduduk miskin, anak-anak, kaum difabel merupakan fokus yang dilakukan oleh BAPPEDA Kota Yogyakrta dalam menginklusifkan Kota Yogyakarta. Hal yang cukup menarik yang kemudian dismapaikan oleh Pak Edy ini adalah terdapat program Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang biasanya dilakukan oleh pemerintah ini dilakkukan oleh anak-anak dan juga wanita, hal ini merupakan program yang akan dilaksanakan oleh BAPPEDA DIY. Program di bidang pendidikan dan kesehatan yang disampaikan oleh Pak Eddy menjawab kekhawatiran masyarakat akan keselarasan program yang diadakan oleh pemerintah dan pelaksanaanya di masyarakat.

Jadawal pelaksanaan Musenbang Kota Yogyakrta yang disampaikan oleh Ir.Edy Muhammad

Sumber foto: Dokumnetasi Pribadi Komunitas Pemuda Tata Ruang

Emmy Yuniarti Rusadi sebagai narasumber terakhir memaparkan tema Kota Inklusif untuk Kita Semua. Tag line yang menarik disampaikan oleh Mbak Emy adalah Perkembangan dunia dewasa ini sudah berkembang terlalu dewasa”. Kalimat tersebut menujukkan bahwa sekarang ini terdapat ketimpangan yang terjadi dalam memaknai dalam inklusifitas. Beliau juga menyampaikan bahwa draft yang nantinya disusun dan disampaikan ke forum yang dilaksanakan di Surabaya memasukkan unsur Rural Development.

Dalam konsep Sustainable Development Goals (SDGs) terdapat 17 poin yang menjadi goals dalam pembangunan, dan dalam pelaksanaan di HABITAT III nanti diharapkan Local Wisdom juga di  munculkan dan dibahas. Kemudian pemahaman SDGs yang mungkin masih asing di telinga masyarakat sekarang harus didukung dan digencarkan terlebih dengan poin plus dalam komunikasi, Indonesia dapat melakukan komunikasi yang melibatkan dua arah. Anak muda akan berperan sangat besar dalam hal penyampaian karena anak muda sebagai jembatan antara masyarakat dan juga para stakeholders. Pembangunan yang dilakukan sekarang ini seharusnya tidak hanya pembangunan yang berupa fisik saja tetapi juga bagaimana mindset terlebih mempertimbangkan apa yang biasa anak muda lakukan. Ada beberapa tantangan yang dipaparkan nantinya akan dihadapi untuk menjadi Kota Inklusif, manajemen populasi, penegakkan aturan, degradasi lingkungan vs kepentingan ekonomi, kesadaran pemuda dalam bertindak nyata, komunikasi antara yudukati, legeslatif, eksekutif dengan warga, dan yang terakhir sosialisasi ke warga.

Pemaparan dari Emmy Yuniarti Rusadi sebagai narasumber terkait Kota Inklusif untuk Kita semua

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi Komunitas Pemuda Tata Ruang

Pemaparan Emmy Yuniarti Rusadi sebagi pemapran terakhir, dan kemudian dibuka sesi Tanya jawab. Sesi tanya jawab dilakukan dalam satu sesi dengan lima kesempatan untuk bertanya. Seluruh penanya merupakan perwakilan dari komunitas, mahasiswa yang sangat antusias dengan isu yang dibawakan di forum ini. Pertanyaan yang ditanyakan oleh masing-masing penanya dijwab oleh masing-masing narasumber dengan kapasitas dari tiap-tiap narasumber. Hasil forum yang dilaksanakan pada 17 Mei ini nantinya akan dibawa ke forum yang dilaksanakan di Solo pada 23-24 Mei 2016. Hasil-hasil tersebut akan disusun dan menjadi draft yang akan dibawa ke Prepcorm 3 di Surabaya pada Juli mendatang. Tentunya kegiatan yang telah dilakukan dapat membangun dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

 

Mardha Tri Yudha Wibawa, Fardhan Amarullah, Zilda Dona Okta P

 Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net