Jalan yang dipenuhi romantisme,

yang menyimpan banyak cerita,

yang menjadi jalan perantara,

dimana seorang bayi dengan segala kekurangan dan kelebihannya

melewati masa remaja dengan berbagai tantangan,

kemudian mencari jati diri demi menuju puncak tertinggi.

Apa Kabar Malioboro..

 

Sumber gambar: Dokumentasi Petarung 2016

16 April 2016,

Pagi hari di pertengahan Bulan April ini, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama dengan HMT PWK UGM Pramukya Arcapa mengadakan screening film dan diskusi Apa Kabar Malioboro, Dulu, Kini, dan Nanti. Diawali cuplikan video selama 16 menit yang mengajak peserta menelusuri Jalan Malioboro, jalan sepanjang 2 KM dengan berbagai dinamika kegiatan masyarakat didalamnya. Pandangan dari masyarakat yang berkegiatan disana hingga cuplikan wawancara dari ahli perkotaan membuka pemikiran dan wawasan tersendiri mengenai Jalan Malioboro serta fenomena pembangunannya saat ini.  

 

 Sumber gambar: Dokumentasi Petarung 2016

Acara berlangsung ke sesi diskusi yang dipandu oleh M. Retas Aqabah (Ketua BEM KMFT UGM 2016, Divisi Aksi PETARUNG) sebagai moderator, dimulailah diskusi di salah satu ruangan Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM. Diskusi  ini turut menghadirkan pembicara-pembicara hebat yang menyempatkan hadir ditengah kesibukan mereka, yaitu Emmy Yuniarti Rusadi, S.T., M.Eng (Peneliti, Aktif di UNMGCY), Ardhyasa Fabrian Gusma, S.T (Pemenang Sayembara Desain Kawasan Malioboro Tahun 2014), dan Sotya Sasongko, S.SOS. M,SI (Staf Pusat Studi Pariwisata UGM).

Pembicara pertama ialah Emmy Yuniarti yang mengangkat diskusi mengenai aksi pemuda dalam pembangunan. Pembawaan yang santai namun penuh penekanan ini mengajak peserta diskusi untuk berikir dan berimajinasi tentang kegiatan-kegiatan pemuda serta fenomena degradasi nilai budaya yang terjadi. Termasuk dalam pembangunan, kerap kali idealisme budayawan, pemerintah, masyarakat, serta pemuda berbeda, termasuk di Jalan Malioboro yang dulu merupakan jalan yang mengekspresikan keserasian seni, budaya, politik, maupun ekonomi. Penekanan  mengenai perspektif pemuda jaman dulu dengan spritualitas yang tinggi tentu berbeda dengan pola pikir pemuda jaman sekarang. Namun perubahan akan terjadi dan kita tak dapat memungkirinya, oleh karena itu peran pemuda sebagai agen perubahan harus sadar dan mengerti akan kebutuhan masa depan, begitupula dengan ruang dan masyarakat dengan segala dinamika kegiatannya di Jalan Malioboro.

 

Sumber gambar: Dokumentasi Petarung 2016

Kemudian diskusi dilanjutkan oleh Mas Gusma yang bercerita mengenai tiap tahap perencanaan oleh tim desain kawasan Jalan Malioboro. Tim ini terdiri dari 5 orang juara sayembara yang dikumpulkan oleh pemerintah kota untuk membuat desain elaborasi. Desain elaborasi yang merupakan penyatuan desain-desain ini kemudian menemui kebuntuan dalam beberapa diskusi bersama para ahli maupun pelaksana pembangunan.

Pro-kontra terus mewarnai diskusi namun tidak membuahkan hasil yang berarti. Kemudian ditengah perjalanan tersebut Mas Gusma bersama tim mencoba melakukan sinkronisasi desain seiring dengan memperdalam detail-detail dalam desain perencanaan maupun eksisting kawasan. Hingga akhirnya desain dengan 20 tema, 8 nodes, dan beberapa evaluasi pembangunan yang tak sesuai aturan maupun RTBL Kawasan malioboro dipresentasi didepan para ahli, pelaksana pembangunan, juga Sultan turut hadir untuk mempertimbangkan perencanaannya. Hasilnya, saat ini kita dapat melihat hasil pelaksanaan renovasi KM 0 dengan konsep pembangunan plaza yang langsung disetujui oleh Sultan dan didanai oleh dana istimewa. Setelah 2 tahun pula, pelaksanaan pembangunan aspek transportasi akhirnya terlaksana, yaitu dengan kebijakan sempadan jalan bebas parkir motor serta pembangunan kantong parkir portable di Tempat Parkir Abu Bakar Ali. Adapun pelaksanaan perencanaan PKL yang juga menjadi unsur utama kegiatan di Malioboro akan dilaksanakan setelah aspek transportasi selesai terlaksana.

Dengan dinamika perubahan yang terjadi tersebut, yang harus dilakukan bersama ialah mengaktifkan kegiatan di ruang-ruang yang telah tersedia disana, mulai dari berkumpul bersama teman teman di koridor jalur pedestrian, bersepeda, hingga bermain badminton dan kegiatan lainnya di Jalan Malioboro. Cerita-cerita Mas Gusma bersama tim dalam perencanaan hingga keterlibatan dalam pelaksanaan pembangunan di Malioboro membawa emosi peserta naik turun, lucu, kesal, greget, hingga takjub dan heran akan dinamika proses tersebut memberikan pengetahuan baru yang berkesan. 

Sumber gambar: Dokumentasi Petarung 2016

Tidak kalah menarik dengan dua pembicara sebelumnya, Pak Sasongko sebagai pembicara terakhir melanjutkan diskusi dari perspektif seorang ahli pariwisata. Belaiu berbicara mengenai peluang tantangan, dan kunci sukses pengembangan Malioboro. Analisis mengenai masalah yang dirasakan pengunjung, tinjauan Undang-Undang, serta hal-hal yang menjadi daya tarik Malioboro dikupas secara padat dan jelas. Beberapa solusipun dikemukakan, antara lain penegasan citra ditiap titik Jalan Malioboro untuk memperjelas titik pariwisata; pengembangan secara beriringan dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, filosofi, sejarah, maupun bidang lainnya; Maintanance serta pengelolaan terpadu dalam masterplan, kelembagaan, maupun SDM terkait. Diskusipun selesai dengan beberapa pertanyaan peserta, penyerahan kenang-kenangan bagi para pembicara, dan foto bersama.

  

Sumber gambar: Dokumentasi Petarung 2016

“Jangan takut akan perubahan walau terkadang perubahan itu menyakitkan,” Pesan Emmy kepada para pemuda yang hadir. Tidak hanya mengunggulkan kecerdasan, namun juga harus memahami wisdom. Karena perubahan yang terjadi belum tentu buruk, banyak hal baik yang dapat kita lihat dengan bijak. Jika tidak dapat berkata, maka pemuda bisa menulis, peran pemuda sebagai pihak tengah akan menjadi role model yang menjunjung nilai etika, tidak buta politik, dan dapat memberikan saran terbaik. Adapun pesan dari Pak Sasongko ialah, “Jauh berjalan, banyak melihat.”. Dan patut kita akui bersama, dengan berjalan dan langsung merasakan ruang-ruang disana maka banyak hal baru yang kita ketahui dan kita pahami. “Peran pemuda sangatlah penting, memang berat namun harus diupayakan” ujar Gusma.

Ya, dinamika perubahan dalam pembangunan Malioboro meberikan banyak cerita hingga terbentuknya ruang-ruang berkespresi bagi setiap orang. Ruang-ruang yang membutuhkan dukungan dari setiap orang, setiap pihak, dan bukan hanya segelintir orang karena disinilah ruang untuk berkespresi. Ekspresi ekonomi, ekspresi politik, sosial, seni, budaya, dan yang terpenting adalah, ekspresi Yogyakarta.

 

Niswati Mardliyyah

Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang, Divisi Humas.

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net