Ilustrasi Struktur Ruang Kota Aerotropolis (Sumber gambar :http://www.Aerotropolis.com/airportCities/about-the-Aerotropolis)

Aerotropolis. kata ini masih asing di telinga masyarakat Indonesia, konsep Aerotropolis dapat memberikan bentuk kota dan magnet yang baru penduduk untuk beraglomerasi. Konsep ini muncul oleh John Kasarda dari University of Carolina. Konsep Aerotropolis ini  menjadikan bandara sebagai pusat perkembangan ekonomi yang akan menstimulasi berbagai pembangunan yang menunjang aktivitas dan menjelasakan bahwa fungsi bandara tidak serta merta hanya sebagai sarana penunjang transportasi saja namun peran bandara lebih besar dari itu. Peran bandara dapat menjadi fokus utama bagi pengembangan wilayah sekitarnya dengan menarik pergerakan orang dan barang keluar masuk ke wilayah bandara dimana bandara tersebut berada.

 

Hal ini dapat menjadikan bandara sebagai faktor penarik aglomerasi perkotaan. Bandara dapat berperan sebagai sebuah magnet yang akan menarik berbagai kegiatan orang untuk semakin mendekat dengan bandara. Semakin banyak jumlah orang yang melakukan mobilisasi ke bandara maka semakin banyak fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Orang akan membutuhkan sarana transportasi yang menghubungkan bandara dengan tempat tinggalnya. Selanjutnya bermunculan ruang-ruang pertemuan, kantor ataupun tempat-tempat bisnis sebagai penunjang kegiatan bisnis mereka. Hingga akhirnya bermunculan area permukiman, apartemen maupun hotel sebagai tempat tinggal.

Dengan pertumbuhan yang sedemikian terus berkembang yang pada akhirnya sebuah bandara akan menyatru dengan seluruh kegiatan bisnis yang ada disekitar bandara. Sebuah bandara yang sebelumnya hanya berdiri sendiri atau bandara kota sekarang menjadi kota bandara (Airport City) .Jika perkembangan itu dalam skala yang lebih besar dan meluas, dimana sebuah bandara benar-benar menjadi pusat kegiatan, maka terbentuklah apa yang dinamakan Aerotropolis. Lahirlah istilah terkenal mengenai Aerotropolis.

Contoh Penerapan di Indonesia

Indonesia sudah menerapkan konsep Aerotropolis di beberapa bandara, salah satunya Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara. Angkasa Pura II sudah menetapkan Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara sebagai model dari penerapan konsep AerotropolisPada tahap I ini, Kuala Namu memiliki luas 1.365 hektar dengan runway berukuran 3.750 x 60 meter dan parallel taxiway berukuran 3.750 x 30 meter dan 2.000 x 30 meter, dengan kapasitas penumpang 8 juta. Uniknya, Bandara Kualanamu juga dilengkapi dengan kereta api monorel khusus dari kota Medan yang menjadi satu-satunya kereta api yang menghubungkan antara kota dan bandara di Indonesia.

Bandara Kualanamu ini merupakan bandara percontohan yang akan ditiru oleh Empat bandar udara di Indonesia dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi aerospace park bagi MRO/maintanace, repair, overhaul dan manufacturing sebagai bagian dari Aerotropolis ariport di Indonesia. Keempat bandara tersebut adalah Hang Nadim Batam, Samarinda Baru, Lombok Baru, dan Segun Sorong (Badan litbang perhubungan, 2010). Dengan adanya kota yang berkonsep Aerotropolis ini maka perkembangan kota tidak hanya mengikuti jalan-jalan tetapi mulai bergeser ke bandara sebagai pusat pertumbuhan kota sehingga diharapkan bentuk kota akan semakin rapi dan teratur.

Tantangan Bagi Pembangunan Aerotropolis Di Indonesia

Terdapat beberapa tantangan bagi Indonesia untuk menerapkan konsep Aerotropolis. Yang paling utama adalah ketersedian lahan yang memang cocok dan memadai untuk dibagun bandara baru. Karena bandara memerlukan lahan yang luas dan memeiliki kriteria yang cocok untuk dibangun bandara baru. Selanjutnya  dari segi pembiayaan dalam infrastruktur karena pembangunan bandara tidaklah murah dibutuhkan biaya yang besar untuk mendirikan bandara.

Namun, terdapat pula beberapa manfaat untuk konsep Aerotropolis ini yaitu mengembangkan kota atau daerah yang masih belum maksimal pembangunan ekonominya terlebih yang disebabkan karena keterbatasan dari akses transportasi. Selain itu dibangunnya Aerotropolis di beberapa daerah akan memperkuat rantai pasokan industri di tingkat nasional, regional, dan global. Selanjutnya terjadinya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia yang akan mengurangi jumlah penduduk yang melakukan urbanisasi serta terus terjadinya peningkatan kualitas infrastruktur transportasi di Indonesia. Lalu pertanyaan besar bagi Indonesia, sudah siapkah konsep Aerotropolis diterapakan di berbagai kota di Indonesia?

Referensi

http://www.siperubahan.com/read/2188/Mewujudkan-Konsep-Aerotropolis-di-Indonesia

Rachmat Kurniawan

Penulis merupakan Wakil Ketua dari Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net