Gambar 1: Lansekap Kota Kitakata

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

Sebuah Intisari Hasil Observasi dari Program JENESYS 2.0 Batch 8 Urban Engineering and City Planning 21-29 April 2014 (JICE dan Kementerian Riset & Teknologi Indonesia)

Oleh : Mayang Rahmi Novitasari

Jepang merupakan negara maju yang teknologinya sudah berkembang dengan sangat pesat. Demikian pula dalam perencanaan dan pembangunan kota-kotanya. Salah satu prinsip yang dapat dipelajari dari proses pembangunan kota-kota di Jepang adalah prinsip monozukuri. Prinsip monozukuri ini sendiri sebenarnya merupakan prinsip hidup yang dijalani oleh orang-orang Jepang dalam membangun peradabannya, termasuk pembangunan kota-kotanya.  Prinsip hidup tersebut merupakan bagian dari tradisi setempat.  Secara harfiah, monozukuri berasal dari 2 (dua) kata yakni mono (sendiri/tunggal) dan zukuri (perancangan/perencanaan). Dalam hal ini yang dapat dipelajari dari prinsip monozukuri adalah semangat perencanaan atau perancangan untuk mencari solusi terhadap setiap permasalahan yang dihadapi sekonkrit, secepat, setepat, dan semandiri mungkin. Dari prinsip monozukuri ini juga dapat dipelajari bahwa setiap orang memahami dan melaksanakan perannya masing-masing, termasuk mencari setiap solusi terhadap permasalahannya dan saling menghargai antar peran yang berbeda. Prinsip seperti ini yang melandasi kesuksesan pembangunan kota-kota di Jepang sehingga menjadi kota yang layak huni.

 

Adapun bentuk-bentuk penerapan prinsip monozukuri dalam pembangunan kota di Jepang dapat dilihat sebagai berikut.

 

1. Pembangunan Tokyo Skytree Tower

Perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian Tokyo Skytree Tower dilakukan oleh pihak swasta, yakni Tobu Group. Pembangunan Tokyo Skytree Tower ini pada awalnya dilatarbelakangi oleh terganggunya gelombang penyiaran televisi akibat banyaknya bangunan-bangunan tinggi di Tokyo. Tower ini sendiri dibangun di atas lahan milik Tobu Railway Co.,Ltd yang sudah tidak produktif lagi. Pihak Tobu Group sendiri mengajukan kepada pemerintah untuk mengaktifkan kembali lahan tersebut dengan pertimbangan kestrategisan lokasi yang dapat mengefektifkan sumber daya pariwisata di sepanjang Tobu railway lines, yakni area Nikkou-Kinugawa, Minami Aizu, Tochigi, dan Ryomo. Pihak pemerintah menerima pengajuan tersebut dengan pertimbangan keseimbangan pembangunan Kota Tokyo yang sebelumnya lebih banyak terkonsentrasi di pesisir dan area selatan Tokyo (Shinagawa, Odaiba, Roppongi, Shiodome, dan lain-lain).

Dari proses pembangunan Tokyo Skytree Tower tersebut dapat dilihat bahwa pihak swasta memahami perannya (hak dan kewajiban) dengan sangat baik, sehingga dapat berkontribusi maksimal dalam pembangunan kotanya. Prinsip monozukuri diterapkan oleh pihak swasta dalam pembangunan tower ini. Pihak swasta tersebut mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahannya dan pada akhirnya solusi tersebut membawa multiplier effect bagi Kota Tokyo secara keseluruhan. Tower yang resmi beroperasi Mei 2012 tersebut kini menjadi landmark kebanggaan Kota Tokyo sebagai tower tertinggi di dunia.

Gambar 2: Tokyo Skytree Tower

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

Gambar 3: Pemandangan Kota Tokyo dari atas Tower

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

 

2. Pembangunan Kota Kitakata

Kota Kitakata merupakan salah satu kota yang berada di prefektur Fukushima. Perekonomian Kota Kitakata berbasis pada agrowisata. Kota ini sama sekali tidak terkena dampak radiasi dari bocornya reaktor nuklir yang terjadi pada 2011 lalu di salah satu bagian Fukushima. Namun, kota ini harus menanggung dampak dari pemberitaan yang berlebihan terkait radiasi nuklir tersebut. Kunjungan wisatawan dan penjualan hasil pertanian kota ini menurun drastis. Oleh karena itu, sejak peristiwa tersebut hingga kini pemerintah Kota Kitakata dan warganya sedang memulihkan kesan (image) kota ini.

 

Prinsip monozukuri juga diterapkan dalam pembangunan kota ini. Kota Kitakata merupakan kota yang sangat memperhatikan keseimbangan antara alam perdesaan, warga kota, dan budayanya. Untuk menerapkan hal tersebut ke dalam bentuk fisik penataan ruangnya, pemerintah membuat suatu guideline untuk lansekap kota yang harus dipatuhi oleh seluruh warga kota. Beberapa bentuk guideline lansekap tersebut adalah warna yang serasi sesuai kondisi sekitar, penutupan dengan tanaman, dan sebagainya. Oleh karena disadari bahwa guideline tersebut akan dilaksanakan oleh warga kota, maka warga kota melalui asosiasi-asosiasi yang dibentuknya bekerja sama dengan pemerintah dalam menetapkan guideline tersebut. Dengan demikian, guideline menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Selain dalam hal pembuatan guideline lansekap, prinsip monozukuri juga dapat dilihat dari keikutsertaan warga dalam menjaga Kura sebagai bangunan tradisional Jepang. Kesadaran warga kota yang tinggi juga mendukung kesuksesan pelaksanaan program-program tersebut.

Gambar 4: Lansekap Kota Kitakata

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

Gambar 5: Salah satu Kura (bangunan tradisional penyimpanan hasil panen Jepang) yang dipertahankan oleh Pemerintah Kota Kitakata dan difungsikan kembali sebagai toko eceran.

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

Prinsip monozukuri tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah dan warga atau NGO saja, melainkan juga pihak akademisi. Dalam setiap desain suatu proyek, akademisi selalu terlibat dalam proses pembuatan atau pengawasannya untuk memastikan keamanan dari setiap desain proyek tersebut. Prinsip monozukuri yang dipegang oleh setiap pihak membawa pada kerjasama yang sangat baik antar stakeholder dalam membangun kota.

 

3. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa 2011 di Sendai

Salah satu hal yang mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa 2011 di Sendai, terutama bagian pesisir adalah adanya gerakan dari komunitas arsitek Jepang untuk membantu dalam hal desain dan proses pembangunan permukiman warga. Komunitas tersebut bernama Archi+Aid. Komunitas ini membangun jaringan antar arsitek untuk bersama-sama melakukan revitalisasi pesisir dan permukiman penduduk terutama di Semenanjung Oshika yang penduduknya sebagian besar adalah nelayan. Inisiatif dari komunitas ahli tersebut menunjukan bukti prinsip monozukuri, yakni semangat merancang atau merencanakan sesuai peran masing-masing untuk menghasilkan solusi bagi suatu permasalahan.

Gambar 6: Pemaparan tentang Archi+Aid di Tohoku Institute of Technology

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014

Selain dilakukan oleh komunitas Archi+Aid, prinsip monozukuri tersebut juga dijalankan oleh akademisi terkait dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di Sendai. Salah satunya adalah hasil penelitian dari Tohoku Institute of Technology yang menemukan perpaduan oil dumper dan karet untuk mengurangi guncangan pada bangunan akibat gempa. Para akademisi tanggap dalam melihat permasalahan yang dihadapi kota-kota di Jepang, kemudian aktif berkontribusi untuk menangani permasalahan tersebut sesuai perannya masing-masing.

Gambar 7: Poster Informasi tentang Oil Dumper Design

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2014

Gambar 8: Salah Satu Bangunan Tahan Gempa di Tohoku Institute of Technology

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2014

 

4. Lain-Lain

Prinsip monozukuri juga diterapkan dalam pembuatan fasilitas-fasilitas publik. Seperti pembuatan trem, guiding block, serta jalur pedestrian dan transportasi publik yang mudah diakses lansia dan difable. Prinsip monozukuri diterapkan dalam penyediaan fasilitas-fasilitas tersebut dengan memperhatikan kemudahan akses bagi seluruh kalangan sehingga dapat beraktifitas secara mandiri sesuai kepentingan masing-masing. Selain itu, program One Village One Product yang sangat terkenal di Jepang ini juga merupakan salah satu hasil dari penerapan prinsip monozukuri. Melalui program tersebut, setiap daerah memiliki hasil produk unggul masing-masing yang bernilai tinggi sehingga tidak terjadi persaingan dan kesenjangan antar satu daerah dengan daerah lainnya.

Gambar 9: Kemudahan Akses dan Keamanan bagi Pejalan Kaki termasuk yang Lanjut Usia

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2014

Gambar 10: Kemudahan Akses Bagi Diffable di Ruang Publik dengan Adanya Guiding Block

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2014

 

Kesimpulan

Prinsip monozukuri merupakan salah satu hal yang telah membawa kesuksesan bagi kota-kota di Jepang dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Kota-kota di Jepang mampu memadukan antara kecanggihan teknologi dan budaya lokal setempat dalam membangun kota-kotanya, sehingga memiliki karakter kota yang khas.


*Penulis adalah pengurus Pemuda Tata Ruang (PETARUNG) dan mahasiswa MPKD UGM.

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net